TLDR
Infeksi dengue mengubah sistem kekebalan tubuh dengan meninggalkan jejak genetik yang bertahan lama. Dua dosis vaksin tidak dapat menandingi perlindungan yang diberikan oleh satu infeksi alami. Penelitian ini memberikan wawasan baru yang dapat mempengaruhi desain dan kebijakan vaksin dengue di masa depan. Dengue adalah virus berbahaya yang ditularkan oleh nyamuk dan bisa menyebabkan berbagai gejala dari demam ringan hingga komplikasi serius. Karena adanya empat serotipe virus dengue, seseorang dapat terinfeksi berulang kali sepanjang hidupnya. Para ilmuwan telah lama bertanya-tanya mengapa vaksin dengue, yang sudah tersedia, tidak memberikan kekebalan setara dengan satu infeksi alami.Penelitian terbaru dari Duke-NUS Medical School di Singapura menemukan bahwa infeksi dengue tidak hanya memicu respons imun sementara, tetapi juga mengubah aktivitas genetik pada sel imun bawaan seperti monosit dan dendritik secara permanen. Ini berarti infeksi alami meninggalkan 'jejak' yang mengubah baseline sistem kekebalan tubuh.Berbeda dengan infeksi alami, vaksin TAK-003 yang diberikan dalam dua dosis tidak dapat menyebabkan perubahan genetik jangka panjang pada sel imun ini. Akibatnya, respons vaksin pada individu yang belum pernah terinfeksi cenderung lemah, sementara yang pernah terinfeksi menunjukkan respons yang lebih kuat setelah dosis pertama saja.Temuan ini penting karena menjelaskan mengapa biasanya infeksi ulang dengue bisa lebih berat dan mengapa vaksin saat ini tidak bisa sepenuhnya menggantikan perlindungan alami. Hal ini juga menegaskan konsep 'trained immunity' yang sebelumnya hanya dikenal di penyakit seperti malaria dan vaksin BCG, untuk dengue.Dengan wawasan baru ini, diharapkan rancangan vaksin dengue masa depan bisa lebih efektif dengan mampu meniru efek pelatihan imun dari infeksi alami. Sementara itu, vaksin yang ada masih dapat dimanfaatkan secara aman untuk mengurangi jumlah kasus dengue di berbagai wilayah tropis di dunia.