TLDR
Kondisi moneter yang mendukung dapat menjaga pasar Bitcoin tetap bullish. Siklus halving Bitcoin mungkin tidak lagi relevan dalam menentukan arah pasar. Kebijakan ekonomi di AS dan Tiongkok berpengaruh signifikan terhadap likuiditas dan harga Bitcoin. Bitcoin selama ini dikenal memiliki siklus harga yang mengikuti event halving tiap empat tahun, dimana penghargaan para penambang Bitcoin berkurang setengahnya. Biasanya, siklus ini diakhiri dengan pasar bearish yang intens yang membuat harga Bitcoin turun tajam setelah puncak bull run.Namun Arthur Hayes, seorang pelaku pasar yang berpengalaman, menyatakan bahwa penyebab sebenarnya dari penurunan harga Bitcoin yang besar pada tahun 2014, 2018, dan 2022 bukan hanya halving, melainkan kebijakan moneter yang ketat dan berkurangnya likuiditas di ekonomi utama dunia.Saat ini, kondisi moneter global berubah. Bank sentral seperti Federal Reserve AS mulai melonggarkan kebijakan dengan menurunkan suku bunga dan memperbanyak pasokan uang. Presiden AS ingin menjaga ekonomi agar tumbuh cepat dan mendorong likuiditas agar harga aset tetap naik.Selain AS, Jepang dan China disebut juga menunjukkan tanda-tanda pelonggaran ekonomi yang dapat mendukung kenaikan harga Bitcoin lebih lanjut. Ini membalikkan tren sebelumnya yang terjadi pada dua siklus halving terakhir yang diikuti pengetatan moneter dan penurunan harga Bitcoin.Maka dari itu, prediksi tradisional yang menunggu penurunan harga Bitcoin setelah halving kemungkinan besar tidak akan berlaku lagi. Harga Bitcoin diperkirakan akan tetap naik dalam jangka menengah hingga panjang karena banyaknya uang murah dan likuiditas yang beredar di pasar.