AI summary
Kenaikan harga emas dan perak mencerminkan kekhawatiran terhadap utang pemerintah dan inflasi. Pemerintah Jepang beralih ke kebijakan fiskal yang lebih agresif di bawah kepemimpinan baru. Adopsi stabilcoin diperkirakan akan mendorong pertumbuhan lebih lanjut dalam pasar cryptocurrency. Harga emas naik melewati rekor tertingginya dan mencapai lebih dari 4.060 dolar AS per troy ons, didorong oleh meningkatnya kekhawatiran investor terhadap nilai mata uang fiat dan kebijakan fiskal global yang tidak pasti. Investor kini mencari aset keras sebagai lindung nilai dari inflasi dan utang pemerintah yang membengkak.Perak juga menunjukkan performa luar biasa dengan harga futures mencapai 48,70 dolar AS, level tertingginya dalam dekade terakhir. Bitcoin juga tidak kalah, dengan harga mendekati 123.000 dolar AS setelah menyentuh rekor tertinggi hampir 125.790 dolar AS pada awal pekan.Di Jepang, hasil pemilihan perdana menteri yang mengejutkan menghasilkan pilihan Sanae Takaichi yang mendukung stimulus ekonomi besar-besaran. Kebijakan fiskal yang longgar seperti ini memperkuat tren global menuju defisit fiskal besar yang diprediksi akan berlanjut pada tahun-tahun mendatang.Para analis dari perusahaan besar seperti JPMorgan dan Goldman Sachs mempertimbangkan bahwa inflasi, pelemahan dolar AS, dan aliran modal ke emas serta cryptocurrency akan terus mendorong harga aset ini naik. ETF emas mencatat kuartal terbaiknya, sementara prediksi harga emas Goldman Sachs pada Desember 2026 naik menjadi 4.900 dolar AS per troy ons.Pasar cryptocurrency juga sangat positif, didukung oleh meningkatnya penerimaan stablecoin yang berpotensi membawa gelombang adopsi baru dalam jangka menengah hingga panjang. Investor semakin melihat bitcoin dan aset digital sebagai pelindung nilai terhadap disfungsi politik dan tekanan inflasi di AS.
Investasi pada aset keras dan cryptocurrency adalah respons alami pasar terhadap inflasi dan kebijakan defisit fiskal yang berkelanjutan, menandakan kepercayaan yang menipis pada mata uang fiat tradisional. Namun, lonjakan harga ini bisa menjadi gelembung yang rentan pecah jika sentimen global berubah atau pengetatan kebijakan moneter kembali diberlakukan.