China Dorong Ledakan Permintaan Teknologi Bersih di Negara Berkembang
Teknologi
Kendaraan Listrik dan Baterai
06 Okt 2025
233 dibaca
2 menit

Rangkuman 15 Detik
Permintaan untuk teknologi bersih meningkat pesat, terutama di negara-negara berkembang.
China memainkan peran penting dalam menurunkan biaya teknologi bersih dan meningkatkan ekspor.
Negara-negara di ASEAN dan Afrika menunjukkan pertumbuhan signifikan dalam adopsi kendaraan listrik dari China.
Permintaan untuk teknologi bersih mengalami peningkatan drastis di seluruh dunia, terutama di negara-negara berkembang di Asia Tenggara, Afrika, dan Amerika Latin. Hal ini dipicu oleh kebutuhan akan solusi energi yang lebih murah dan ramah lingkungan.
China berperan penting dalam tren ini dengan menurunkan harga baterai dan panel surya, yang menjadikan produknya lebih terjangkau sehingga mampu memenangkan pasar global. Ekspor teknologi hijau China mencapai rekor Rp 334.00 triliun (US$20 miliar) per bulan pada Agustus 2025.
Negara-negara di luar OECD menyumbang 51% dari pertumbuhan ekspor kendaraan listrik China tahun ini, menunjukkan peran besar negara berkembang dalam mendorong pertumbuhan pasar teknologi bersih. Contohnya, ekspor ke ASEAN naik 75% dengan Indonesia menduduki peringkat kesembilan pasar kendaraan listrik terbesar dunia.
Selain Asia Tenggara, ekspor kendaraan listrik China ke Afrika hampir meningkat tiga kali lipat, terutama di Maroko dan Nigeria yang mengalami lonjakan permintaan sangat tinggi. Pasar Timur Tengah dan Amerika Latin juga mengalami peningkatan signifikan dalam penjualan kendaraan listrik dan teknologi energi bersih.
Tren ini menunjukkan bagaimana China tidak hanya menguasai pasar teknologi hijau global, tetapi juga membantu negara-negara berkembang untuk mendapatkan akses ke teknologi yang dapat mendukung transisi energi mereka ke arah yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Analisis Ahli
Euan Graham
Permintaan teknologi bersih meningkat pesat karena negara-negara ingin mengakses listrik murah dan kendaraan yang lebih ramah lingkungan.
