Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Startup Pilih Vibe Coding Berbasis AI, Ubah Cara Buat Software Dari Prompt

Bisnis
Startup dan Kewirausahaan
News Publisher
06 Okt 2025
1357 dibaca
2 menit
Startup Pilih Vibe Coding Berbasis AI, Ubah Cara Buat Software Dari Prompt

TLDR

Vibe coding telah menjadi tren yang signifikan di Silicon Valley dan dilihat sebagai masa depan pengembangan perangkat lunak.
Startup berinvestasi besar-besaran dalam alat vibe coding untuk meningkatkan aksesibilitas dan produktivitas dalam pengembangan perangkat lunak.
Meskipun menjanjikan, teknologi vibe coding masih memiliki keterbatasan dan tidak sepenuhnya dapat diandalkan untuk teknologi inti.
Andreessen Horowitz bekerja sama dengan Mercury, sebuah fintech yang menangani layanan perbankan untuk startup, menganalisis transaksi lebih dari 200.000 startup antara Juni dan Agustus. Tujuannya adalah untuk mengetahui bagaimana startup menghabiskan uang mereka pada aplikasi AI, termasuk kategori baru yang disebut vibe coding, dimana pengguna bisa membuat perangkat lunak hanya dengan menggunakan perintah teks tanpa harus menulis kode secara tradisional.Vibe coding menjadi tren besar di Silicon Valley dan startup besar mulai mengandalkan alat seperti Replit, Cursor, dan Lovable. Dari data, Replit bahkan menempati posisi ketiga dalam pengeluaran terbanyak startup di bawah OpenAI dan Anthropic. Tren ini menunjukkan adanya pergeseran dari penggunaan coding konvensional ke coding berbasis AI yang lebih mudah dan cepat.Menurut laporan a16z, aplikasi AI yang digunakan oleh berbagai peran dalam perusahaan (horizontal AI) kini lebih banyak dipilih dibanding aplikasi khusus (vertikal AI), dengan angka 60% untuk horizontal dan 40% untuk vertikal. Contoh aplikasi ini selain vibe coding adalah Canva dan ElevenLabs. AI kini membuat alat kreatif dan coding jadi bisa digunakan oleh orang dari berbagai latar belakang pekerjaan, tidak hanya insinyur atau desainer.Meskipun hype-nya besar, vibe coding masih menghadapi tantangan, terutama soal keandalan dan efisiensi kode yang dihasilkan. Menurut CEO Redis, Rowan Trollope, teknologi ini belum cukup dapat diandalkan untuk digunakan pada teknologi inti perusahaan. Kode AI terkadang berlebihan dan menghasilkan solusi yang tidak optimal, sehingga masih dibutuhkan pengawasan manusia.Jika tren ini terus berlanjut, kemungkinan akan muncul banyak platform vibe coding yang mengkhususkan diri pada berbagai jenis aplikasi. Perusahaan dan startup akan semakin berinvestasi pada alat ini karena kemudahan dan potensi efisiensi yang ditawarkan, meskipun perkembangan teknologi harus terus diikuti agar bisa benar-benar diandalkan.
Baca Berita Lebih Cepat,Lebih Cerdas
Rangkuman berita terkini yang dipersonalisasi untukmu — tanpa perlu baca panjang lebar.