Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Global Warming Tingkatkan Kerusakan Super Typhoon Ragasa di China

Sains
Iklim dan Lingkungan
climate-and-environment (5mo ago) climate-and-environment (5mo ago)
03 Okt 2025
286 dibaca
1 menit
Global Warming Tingkatkan Kerusakan Super Typhoon Ragasa di China

Rangkuman 15 Detik

Perubahan iklim berkontribusi signifikan terhadap kerusakan yang disebabkan oleh taifun.
Kekuatan dan curah hujan taifun dipengaruhi oleh suhu global yang semakin meningkat.
Studi menunjukkan bahwa badai tropis akan menjadi lebih merusak akibat pemanasan global.
Para ilmuwan dari Imperial College London menemukan bahwa perubahan iklim menyebabkan kerusakan yang lebih besar dari super typhoon Ragasa yang melanda provinsi Guangdong, China, pada bulan lalu. Studi ini menunjukkan bahwa dampak buruk badai tersebut bertambah sekitar 36 persen karena pemanasan global. Ragasa merupakan badai tropis terkuat yang tercatat tahun ini dan masuk kategori tiga saat mencapai daratan. Para peneliti memperkirakan bahwa badai seperti ini sekarang sekitar 49 persen lebih mungkin terjadi dibandingkan masa sebelum revolusi industri. Peningkatan suhu muka bumi akibat pembakaran bahan bakar fosil menyebabkan angin badai Ragasa bertambah kencang sebesar 7 persen dan curah hujan meningkat hingga 12 persen, yang bersama-sama berkontribusi pada kerusakan yang meluas terhadap rumah dan properti. Para ilmuwan memperingatkan bahwa seiring suhu bumi terus naik, kita dapat mengharapkan badai tropis yang semakin kuat dan destruktif, menimbulkan risiko serius bagi banyak wilayah yang rentan, terutama di kawasan pesisir Asia. Penemuan ini menegaskan pentingnya upaya global untuk mengurangi emisi karbon dan mempersiapkan sistem mitigasi bencana yang lebih baik agar kerugian akibat bencana alam ekstrem bisa diminimalisir di masa depan.

Analisis Ahli

Dr. Michael Mann
Studi seperti ini sangat penting karena menunjukkan hubungan langsung antara aktivitas manusia dan kerusakan akibat bencana, memperkuat urgensi mitigasi iklim global.
Prof. Kerry Emanuel
Analisis tersebut konsisten dengan tren global yang menunjukkan peningkatan intensitas badai akibat suhu permukaan laut yang lebih hangat.