Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Nebius: Transformasi Yandex Jadi Raksasa Infrastruktur AI dan Peluang Investasi

Teknologi
Kecerdasan Buatan
artificial-intelligence (5mo ago) artificial-intelligence (5mo ago)
01 Okt 2025
136 dibaca
2 menit
Nebius: Transformasi Yandex Jadi Raksasa Infrastruktur AI dan Peluang Investasi

Rangkuman 15 Detik

Nebius mengalami pertumbuhan pesat dalam infrastruktur AI setelah rebranding dari Yandex.
Kemitraan yang kuat dengan Microsoft menjadi pendorong utama pertumbuhan pendapatan Nebius.
Nebius berencana untuk meningkatkan kapasitas data centernya secara signifikan dalam beberapa tahun ke depan.
Nebius, sebelumnya dikenal sebagai Yandex, adalah perusahaan teknologi besar Rusia yang harus mengubah arah bisnisnya akibat sanksi ekonomi yang melumpuhkan operasinya di Rusia. Untuk bertahan, perusahaan melepas sebagian besar aset Rusia dan mengubah dirinya menjadi penyedia layanan infrastruktur AI berbasis cloud dengan fokus internasional. Pada Oktober 2024, Nebius kembali diperdagangkan di Nasdaq dengan harga pembukaan Rp 23.86 juta ($14,29) dan kini sudah meningkat tajam menjadi sekitar Rp 1.84 juta ($110) per saham, menandai awal baru bagi perusahaan ini. Nebius mengoperasikan beberapa pusat data utama yang dimilikinya sendiri maupun melalui perjanjian sewa di Finlandia, Missouri, Prancis, dan Islandia. Mereka juga sedang membangun pusat data baru di New Jersey dan memperluas kapasitas dengan perjanjian baru di Inggris. Infrastruktur pusat data tersebut dilengkapi dengan GPU Nvidia terbaru yang sangat diperlukan untuk aplikasi AI. Hal ini memungkinkan Nebius melayani perusahaan yang membutuhkan kekuatan pemrosesan AI tanpa harus membeli dan mengelola hardware mahal itu sendiri. Perpaduan antara penawaran hardware GPU dengan layanan terkelola seperti Kubernetes dan PostgreSQL membedakan Nebius dari kompetitor seperti CoreWeave, yang lebih fokus pada pemrosesan beban kerja intensif GPU saja. Nvidia sendiri memiliki saham minoritas di Nebius, menunjukkan kepercayaan dan dukungan dari raksasa chip tersebut. Nebius juga mengamankan kontrak AI besar selama lima tahun senilai Rp 290.58 triliun ($17,4 miliar) bersama Microsoft, yang akan menjadi pendorong utama pertumbuhan pendapatan di masa depan. Pendapatan Nebius melonjak 462% di tahun 2024 menjadi Rp 1.96 triliun ($117,5 juta) dan diperkirakan tumbuh dengan laju tahunan sebesar 231% hingga mencapai Rp 70.97 triliun ($4,25 miliar) pada tahun 2027. Meski EBITDA masih negatif pada 2024, analis memperkirakan akan positif mulai 2026 dan mencapai Rp 14.23 triliun ($852 juta) pada 2027. Ekspansi kapasitas data center dari 190 megawatt ke 1 gigawatt dan pendanaan Rp 50.10 triliun ($3 miliar) akan sangat mendukung target pertumbuhan ini. Valuasi pasar saat ini sekitar 6 kali penjualan proyeksi 2027, menunjukkan harga saham yang masih berpotensi menarik. Meski demikian, investasi di Nebius tidaklah tanpa risiko karena perusahaan akan terus membakar kas, menambah utang, dan menerbitkan saham baru untuk mendanai ekspansi. Keberhasilan jangka panjang akan bergantung pada kemampuan mereka mengembangkan bisnis dan mempertahankan kemitraan strategis utama. Secara keseluruhan, Nebius merupakan peluang investasi yang menarik di sektor infrastruktur AI, tetapi calon investor harus siap dengan volatilitas dan risiko yang ada.

Analisis Ahli

Leo Sun
Nebius masih layak dikoleksi sahamnya karena peluang pertumbuhan besar di sektor AI jauh melebihi risiko finansial jangka pendek.
The Motley Fool Team
Meskipun Nebius menjanjikan, mereka lebih memilih 10 saham lain yang dianggap berpotensi menghasilkan imbal hasil jauh lebih besar dalam beberapa tahun ke depan.