AI summary
Kebijakan H-1B harus memastikan bahwa upah di industri meningkat dengan kehadiran talenta internasional. Diskusi mengenai H-1B sangat penting bagi keberlanjutan dan inovasi di sektor teknologi. Biaya yang tinggi untuk visa H-1B dapat menghambat startup kecil dalam bersaing untuk mendapatkan talenta. Presiden Donald Trump mengusulkan biaya sebesar 100.000 dolar AS untuk visa H-1B yang digunakan untuk tenaga kerja asing di sektor teknologi. Kebijakan ini menimbulkan perdebatan karena dianggap bisa melemahkan startup dan inovasi, serta ada kekhawatiran soal dampak terhadap upah pekerja domestik.Aaron Levie, CEO Box, menyatakan bahwa pemerintah perlu menetapkan tujuan jelas dari kebijakan visa H-1B, apakah itu menjaga upah atau merekrut talenta terbaik di dunia. Ia memilih agar kebijakan fokus untuk menarik talenta terbaik tanpa membatasi jumlah visa secara keras.Levie juga menekankan bahwa upah pekerja harus naik, bukan turun, dengan adanya talenta internasional yang masuk. Hal ini penting demi menjaga keseimbangan dan kemakmuran di industri dan wilayah tertentu agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan.Kebijakan H-1B juga harus mencegah dominasi tenaga kerja asing yang bisa menghancurkan lapangan pekerjaan lokal di daerah tertentu, seperti contoh Detroit. Selain itu, jangan membatasi perekrutan talenta junior yang memiliki kontribusi signifikan meski belum mencapai tingkat elit.Levie menentang biaya visa sampai 100.000 dolar AS karena hal ini sangat memberatkan startup. Ia mendukung saran untuk menetapkan biaya lebih rendah, seperti 20.000 dolar AS, agar startup tetap bisa bersaing dalam perlombaan merekrut talenta global sekaligus melindungi pekerja Amerika.
Menaikkan biaya visa H-1B secara drastis bisa memperlebar kesenjangan antara perusahaan besar dengan startup yang sedang tumbuh, yang justru berisiko menghambat inovasi teknologi. Kebijakan yang terlalu kaku juga dapat mengakibatkan hilangnya talenta global yang sebenarnya sangat dibutuhkan untuk kemajuan industri teknologi di Amerika Serikat.