Penambang Bitcoin Tertekan, Beralih ke AI Demi Menjaga Keuntungan
Finansial
Mata Uang Kripto
26 Sep 2025
170 dibaca
2 menit
Rangkuman 15 Detik
Penambang Bitcoin menghadapi tantangan besar dengan menurunnya hashprice dan profitabilitas.
Perusahaan penambangan mulai beradaptasi dengan berinvestasi dalam komputasi AI untuk mencari sumber pendapatan baru.
Kondisi saat ini dapat berdampak serius pada keamanan jaringan Bitcoin jika penambang tidak dapat bertahan.
Penambang Bitcoin kini menghadapi masa sulit yang disebut sebagai 'zona dingin' karena profitabilitas mereka turun drastis. Nilai hashprice sebagai indikator utama keuntungan penambang turun di bawah Rp 835.00 ribu ($50) untuk pertama kalinya sejak bulan April. Padahal, harga Bitcoin berada di atas Rp 1.84 juta ($110.000) , sebuah fenomena yang ironis karena keuntungan penambang kini bahkan lebih rendah dibanding saat harga Bitcoin sebesar Rp 1.50 juta ($90.000) .
Penurunan pendapatan ini dipicu oleh halving 2024 yang mengurangi setengah hadiah blok yang diterima penambang. Karena itu, pendapatan mereka tergantung lebih besar pada biaya transaksi, yang saat ini sangat rendah akibat aktivitas transaksi onchain yang lesu. Pada September, biaya transaksi hanya menyumbang kurang dari 0,9% dari total hadiah penambangan Bitcoin, angka yang sangat jauh dari waktu sebelum halving.
Selain itu, jumlah keseluruhan kekuatan komputasi pada jaringan Bitcoin—dikenal sebagai hashrate—justru meningkat sebesar 10% dalam tiga minggu terakhir. Hal ini menimbulkan persaingan yang ketat antar penambang untuk merebut bagian hadiah yang sama. Kesulitan penambangan juga diprediksi naik sebesar 6%, yang semakin menggerus margin keuntungan mereka.
Menghadapi tantangan besar ini, beberapa perusahaan penambang mengadaptasi strategi baru dengan mengalihkan sebagian sumber daya mereka ke bidang kecerdasan buatan (AI) dan komputasi awan. Contohnya adalah CleanSpark dan Cipher Mining yang meningkatkan investasi dan menandatangani kerjasama untuk bertransformasi ke bisnis AI. Ini menjadi model bisnis baru yang semakin populer di kalangan penambang Bitcoin.
VanEck memproyeksikan bahwa jika 12 penambang publik utama berhasil mengalokasikan 20% kapasitas energi mereka untuk AI pada tahun 2027, maka potensi keuntungan tahunan mereka bisa mencapai hampir Rp 233.80 triliun ($14 miliar) . Hal ini menunjukkan bahwa integrasi antara kebutuhan energi AI dan keahlian teknis penambang bisa membuka peluang baru untuk mempertahankan dan meningkatkan profitabilitas di masa depan.
Analisis Ahli
Matthew Sigel
AI membutuhkan energi dalam jumlah besar, dan penambang Bitcoin memiliki keunggulan komparatif dalam pemanfaatan energi tersebut, sehingga ada sinergi yang solid antara kedua sektor ini.