Angkatan Udara AS Mulai Bangun F-47, Jet Tempur Siluman Generasi Baru 2028
Sains
Astronomi dan Penjelajahan Luar Angkasa
23 Sep 2025
143 dibaca
2 menit

Rangkuman 15 Detik
F-47 adalah pesawat tempur generasi keenam yang akan menggantikan F-22 Raptor.
Boeing telah mempercepat proses produksi dan mempersiapkan fasilitas untuk program F-47.
Angkatan Udara berkomitmen untuk memastikan superioritas udara melalui pengembangan pesawat canggih seperti F-47.
Angkatan Udara Amerika Serikat telah memulai pembangunan pesawat tempur generasi keenam bernama F-47, dengan Boeing sebagai perusahaan utama dalam produksi. Pesawat ini diproyeksikan terbang pada tahun 2028 dan menjadi penerus dari jet tempur F-22 Raptor yang sudah lebih dulu dikenal.
F-47 dirancang dengan fitur stealth atau siluman yang lebih canggih, sensor modern, mesin yang sangat kuat, serta kemampuan mengendalikan drone otonom yang berperan sebagai wingmen. Jet ini juga ditargetkan dapat mencapai kecepatan di atas Mach 2 dan memiliki jangkauan tempur lebih dari 1.0.00 km (000 mil) laut.
Dalam rencana pembelian pesawat, Angkatan Udara menjadwalkan minimal 185 unit F-47, yang mana jumlah ini sama atau lebih banyak dibanding armada F-22 saat ini. Pengembangan F-47 diperkirakan berjalan sampai tahun fiskal 2030, tetapi ada peluang jet ini bisa dioperasikan lebih awal.
Boeing sudah memperluas fasilitas produksinya di St. Louis sebagai persiapan untuk program F-47. Produsen dan pekerja di lokasi ini menunjukkan antusiasme besar, termasuk pada saat pengumuman resmi pilihan Boeing sebagai pemenang kontrak oleh Presiden Donald Trump.
Pengembangan F-47 menjadi sangat penting bagi Angkatan Udara AS untuk mempertahankan keunggulan udara di masa depan. Meski ada beberapa ketidakpastian terkait suksesi pimpinan Angkatan Udara, pemerintah berjanji untuk menjaga kelangsungan program dan fokus menghadapi tantangan modernisasi sistem pertahanan.
Analisis Ahli
Mark Gunzinger
Pengembangan pesawat tempur siluman generasi keenam seperti F-47 menunjukkan prioritas AS dalam mempertahankan keunggulan udara, meskipun proses integrasi teknologi baru yang kompleks tetap menjadi hambatan utama.

