Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Kontroversi Drone Cloud Seeding Rainmaker: Risiko dan Regulasi FAA

Sains
Iklim dan Lingkungan
TechCrunch TechCrunch
13 Sep 2025
233 dibaca
2 menit
Kontroversi Drone Cloud Seeding Rainmaker: Risiko dan Regulasi FAA

Rangkuman 15 Detik

Permohonan Rainmaker untuk menggunakan drone dalam cloud-seeding menimbulkan kontroversi terkait keselamatan.
ALPA mengkhawatirkan potensi risiko keselamatan dan dampak lingkungan dari penggunaan flare.
Keputusan FAA akan mempengaruhi masa depan pendekatan baru dalam modifikasi cuaca menggunakan sistem udara tak berawak.
Rainmaker Technology ingin menggunakan drone kecil yang membawa flare khusus untuk melakukan cloud seeding atau modifikasi cuaca dengan cara memicu hujan. Mereka meminta izin dari FAA untuk mengesampingkan aturan yang melarang drone membawa bahan berbahaya, namun hingga kini izin tersebut belum diberikan. Serikat pilot maskapai penerbangan, ALPA, menolak rencana ini karena menganggap risiko keselamatan penerbangan menjadi sangat tinggi. Mereka juga menyorot kurangnya data terkait keamanan operasi, dampak lingkungan, dan potensi bahaya puing akibat flare yang digunakan. Cloud seeding sendiri bukan hal baru, sudah dilakukan sejak tahun 1950-an menggunakan pesawat berawak. Biasanya, operasi ini dilakukan untuk meningkatkan curah hujan di daerah tertentu seperti resor ski atau daerah pertanian yang membutuhkan perairan lebih banyak. Rainmaker mengklaim bahwa operasi drone akan berlangsung di daerah pedesaan dengan izin dari pemilik tanah, serta dilakukan oleh pilot remote yang terlatih sehingga lebih aman dari risiko kecelakaan yang mengancam pilot langsung. Namun lokasi dan detail operasi masih belum jelas di dokumen yang diajukan ke FAA. Keputusan FAA nantinya akan sangat penting untuk menentukan apakah penggunaan drone kecil sebagai alat cloud seeding dapat diterima sebagai teknologi baru yang aman dan efektif, atau justru harus ditekan ketat demi menghindari risiko terhadap penerbangan dan lingkungan.