AI summary
K2 'Bumblebee' menampilkan gait yang inovatif dan tahan gangguan, membuatnya lebih mampu beradaptasi dengan berbagai medan. Platform VLA+ meningkatkan kemampuan robot untuk memahami perintah bahasa alami, memperluas kemungkinan aplikasi industri. Kepler berfokus pada komersialisasi robot humanoid dan melihat 2025 sebagai tahun penting untuk pengembangan pasar. Shanghai Kepler Robotics baru saja memperkenalkan pembaruan besar pada robot humanoid K2 ‘Bumblebee’, menggunakan desain arsitektur hibrida yang menggabungkan aktuator linear roller screw dan aktuator rotari. Teknologi ini memungkinkan robot berjalan dengan lutut lurus seperti manusia dan berjalan stabil di berbagai permukaan seperti batu bata, plastik, dan rumput.Robot ini dirancang agar tahan terhadap gangguan eksternal seperti dorongan, berkat kombinasi mekanik dan kontrol yang rumit termasuk penggunaan pembelajaran penguatan dan imitasi. Kepler juga mengembangkan platform VLA+ yang memungkinkan robot memahami perintah bahasa alami dan menjalankan berbagai tugas, membuka peluang aplikasi industri dan layanan.Teknologi roller screw dipilih karena efisiensi energi tinggi mencapai 81,3% serta posisi yang sangat akurat dan kemampuan menahan beban yang kuat. Pendekatan kontrol robot juga mengatasi tantangan simulasi-ke-nyata dengan menyesuaikan dinamika posisi, kecepatan, dan torsi antar aktuator secara teliti.K2 ‘Bumblebee’ dilengkapi dengan kemampuan operasional selama delapan jam setelah pengisian satu jam, mampu membawa beban hingga 30 kilogram. Riwayat pengembangan ini menandai langkah maju untuk robot humanoid komersial yang bisa digunakan di edukasi, penelitian, logistik, dan manufaktur cerdas.Kepler melihat 2025 sebagai tahun penting dalam komersialisasi robot humanoid, terutama di China. Dengan kemampuan hybrid dan platform kognitif berbasis bahasa, K2 siap bersaing dan memberi dampak nyata bagi industri yang mulai mengadopsi robot humanoid sebagai asisten multi-peran.
Kepler berhasil mengatasi tantangan mekanis dan kontrol yang rumit dengan menyatukan teknologi aktuasi dan algoritma pembelajaran yang canggih, menjadikan K2 lebih adaptif dan efisien secara energi. Ini menunjukkan kemajuan nyata dalam robotika humanoid yang bisa mempercepat adopsi di dunia nyata, namun kompleksitas dan biaya produksi mungkin masih menjadi hambatan utama.