Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Keterlambatan Modernisasi F-35 Amerika, China Kuasai Bahan Langka Jadi Faktor

Bisnis
Manajemen dan Strategi Bisnis
management-and-strategy (6mo ago) management-and-strategy (6mo ago)
11 Sep 2025
284 dibaca
2 menit
Keterlambatan Modernisasi F-35 Amerika, China Kuasai Bahan Langka Jadi Faktor

Rangkuman 15 Detik

Program modernisasi F-35 mengalami penundaan signifikan dan telah melampaui anggaran.
Keterlambatan dalam teknologi dan peningkatan perangkat lunak dapat memengaruhi kemampuan tempur pesawat.
Kendala dalam pasokan bahan langka dari China dapat berkontribusi pada masalah dalam produksi senjata dan sistem pertahanan lainnya.
F-35 adalah jet tempur siluman canggih milik Amerika Serikat yang terus menerima pembaruan teknologi untuk meningkatkan kemampuannya dalam pertempuran. Sejak 2019, Amerika mulai mengupayakan upgrade besar bernama Block 4 yang bertujuan memperkuat keterampilan jet ini dalam mendeteksi musuh dan menyerang sasaran. Namun, proses upgrade ini banyak mengalami penundaan dan biaya yang menggelembung hingga 6 miliar dolar AS lebih besar dari anggaran yang direncanakan. Awalnya, pemerintah AS menjadwalkan semua perbaikan ini selesai pada tahun 2026, tapi kini diperkirakan dapat terlambat hingga tahun 2031. Salah satu penyebab utama keterlambatan adalah keberadaan teknologi penting bernama Technology Refresh 3 yang menangani pembaharuan hardware dan software. Lockheed Martin, sebagai perusahaan pembuat F-35, mengelola paket upgrade senilai 1,9 miliar dolar AS yang kini menjadi titik krusial penundaan. Selain itu, China diketahui menguasai langka dan logam langka yang diperlukan untuk pembuatan perangkat serta senjata canggih. Pengaruh China dalam hal ini mempersempit pilihan Amerika dan memperberat proses modernisasi jet tempurnya karena ketergantungan pada bahan tersebut. Situasi ini menunjukkan pentingnya diversifikasi sumber bahan baku dan kecanggihan teknologi militer dalam menghadapi rival global. Kegagalan mengatasi masalah ini bisa menghambat Amerika dalam menjaga dominasi teknologi pertahanannya di masa depan.

Analisis Ahli

Michael O'Hanlon (Senior Fellow di Brookings Institution)
Ketergantungan pada rantai pasokan global, terutama dari negara yang menjadi rival strategis, memang menimbulkan risiko besar dan bisa menjadi titik lemah dalam kesiapan militer AS.
Mark Gunzinger (Panglima Angkatan Udara AS Retired dan Analis Pertahanan)
Teknologi militer mutakhir seperti F-35 sangat kompleks dan sulit di-upgrade tanpa keselarasan antara komponen hardware dan software, sehingga keterlambatan memang hampir tak terhindarkan dalam proyek sebesar ini.