Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Semen Hidup yang Bisa Menyimpan Energi: Masa Depan Bangunan Pintar

Teknologi
Kendaraan Listrik dan Baterai
InterestingEngineering InterestingEngineering
11 Sep 2025
52 dibaca
2 menit
Semen Hidup yang Bisa Menyimpan Energi: Masa Depan Bangunan Pintar

Rangkuman 15 Detik

Beton dapat berfungsi sebagai penyimpanan energi melalui integrasi bakteri.
Sistem mikrofluidik dapat menjaga bakteri hidup, meningkatkan kinerja penyimpanan energi.
Infrastruktur masa depan mungkin dapat berfungsi sebagai sumber energi terbarukan.
Para peneliti dari Aarhus University di Denmark menemukan cara inovatif dengan memasukkan bakteri hidup ke dalam semen, bahan bangunan paling umum di dunia, untuk menciptakan superkapasitor yang mampu menyimpan energi listrik. Bakteri khusus yang digunakan, Shewanella oneidensis, mampu mengangkut muatan listrik yang memungkinkan semen tidak hanya sebagai penopang beban bangunan tetapi juga penyimpan energi. Dengan integrasi mikrofluida, sistem ini dapat menyediakan nutrisi penting seperti protein dan vitamin untuk menjaga agar bakteri tetap hidup dan mengembalikan fungsi material ketika kapasitas energi mulai menurun. Percobaan menunjukkan bahwa kapasitas penyimpanan energi dapat dipulihkan hingga 80% setelah "diberi makan" oleh sistem ini. Material semen yang hidup ini diuji dalam berbagai kondisi ekstrem mulai dari suhu beku hingga panas terik dan tetap mampu menyimpan serta melepaskan energi listrik. Enam blok semen yang terhubung secara bersamaan dapat menghasilkan listrik yang cukup untuk menyalakan sebuah lampu LED, yang menunjukkan potensi praktisnya dalam kehidupan nyata. Teknologi ini bisa mengubah konsep bangunan yang selama ini pasif menjadi lebih aktif dan multifungsi, tidak hanya sebagai tempat berlindung tetapi juga sebagai penyimpanan energi. Dengan kemampuan ini, bangunan bisa menyimpan energi dari sumber terbarukan seperti panel surya dan mengurangi ketergantungan terhadap baterai konvensional yang mahal dan terbatas sumber dayanya. Meskipun masih di tahap awal, temuan ini memberikan gambaran tentang masa depan infrastruktur yang mandiri secara energi, di mana dinding dan fondasi bangunan dapat berfungsi sebagai baterai alami, mengurangi biaya perawatan dan mengganti baterai tradisional, sekaligus mendukung transisi ke energi berkelanjutan.

Analisis Ahli

Dr. Emily Carter (Ahli Material dan Energi Terbarukan)
Pendekatan ini membuka paradigma baru dalam desain material bangunan yang tidak hanya pasif tetapi juga aktif dalam sistem energi. Ini bisa menjadi terobosan signifikan dalam teknologi penyimpanan energi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.