Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

China Diduga Gunakan Malware Lewat Email Palsu Serang AS dalam Negosiasi Dagang

Teknologi
Keamanan Siber
cyber-security (6mo ago) cyber-security (6mo ago)
08 Sep 2025
287 dibaca
2 menit
China Diduga Gunakan Malware Lewat Email Palsu Serang AS dalam Negosiasi Dagang

Rangkuman 15 Detik

China diduga menggunakan metode peretasan untuk mendapatkan informasi terkait negosiasi perdagangan.
Email palsu yang dikirimkan dibuat untuk terlihat resmi dan berisi malware yang merugikan.
Pihak berwenang AS sedang menyelidiki insiden ini untuk mengidentifikasi dan menangani ancaman siber yang ada.
Baru-baru ini terungkap bahwa China diduga melakukan serangan siber dengan menyelipkan malware melalui email palsu yang dikirimkan ke berbagai kelompok perdagangan, firma hukum, dan lembaga pemerintahan Amerika Serikat. Email ini dibuat seolah-olah berasal dari anggota parlemen AS bernama John Moolenaar, bertujuan untuk mencuri informasi rahasia terkait negosiasi dagang antara kedua negara. Email palsu tersebut dikirim sebelum berlangsungnya perundingan dagang yang diadakan di Swedia, di mana kedua negara menghasilkan kesepakatan gencatan senjata tarif hingga bulan November. Dalam email tersebut, penerima diminta untuk meninjau rancangan aturan yang disertakan dalam lampiran, yang ternyata berisi malware yang dapat memberikan akses ke peretas. Setelah diterima oleh John Moolenaar, ia mendapat banyak pertanyaan membingungkan mengenai isi email itu. Analisis selanjutnya mengungkapkan malware tersebut berasal dari grup peretasan bernama APT41, yang dikenal memiliki hubungan dengan intelijen China dan sering melakukan serangan siber untuk mendapatkan keuntungan strategis. Menanggapi tuduhan ini, Kedutaan Besar China di Washington membantah mengetahui rincian serangan tersebut dan menegaskan menentang segala bentuk pencemaran nama baik tanpa bukti yang kuat. Mereka juga menyatakan bahwa banyak negara menghadapi serangan siber yang sulit dilacak, dan China berkomitmen untuk melawan kejahatan siber. Saat ini, kepolisian Capitol AS sedang melakukan penyelidikan terkait serangan tersebut, meskipun mereka belum memberikan pernyataan resmi. Kasus ini menjadi peringatan penting akan ancaman siber yang terus berkembang, khususnya dalam konteks diplomasi dan hubungan perdagangan internasional.

Analisis Ahli

Brian Krebs (jurnalis keamanan siber)
Serangan phishing yang dikemas dengan malware adalah metode yang umum dan efektif dipakai oleh aktor negara, sehingga penting bagi instansi pemerintah dan perusahaan untuk meningkatkan langkah deteksi sejak dini.
Mikko Hypponen (Chief Research Officer, F-Secure)
APT41 adalah contoh nyata bagaimana kampanye siber berkaitan dengan tujuan intelijen negara dapat berlangsung lama dan canggih, membutuhkan respon yang sangat strategis dari pihak yang diserang.