Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Saham AI Naik Pesat, Tapi Keuntungan Nyata Belum Terlihat Jelas

Finansial
Investasi dan Pasar Modal
investment-and-capital-markets (6mo ago) investment-and-capital-markets (6mo ago)
05 Sep 2025
213 dibaca
2 menit
Saham AI Naik Pesat, Tapi Keuntungan Nyata Belum Terlihat Jelas

Rangkuman 15 Detik

Hype tentang AI belum diterjemahkan menjadi keuntungan nyata bagi banyak perusahaan.
Investasi besar dari perusahaan teknologi dalam AI menunjukkan potensi pertumbuhan di masa depan.
Risiko hype yang berlebihan dapat berdampak negatif pada proyeksi pendapatan dan nilai pasar.
Tahun ini, saham perusahaan yang berhubungan dengan kecerdasan buatan (AI) telah naik sebesar 17%, didorong oleh investasi besar dari perusahaan teknologi ternama. Namun, walaupun banyak perusahaan yang menyebut AI dalam laporan keuangannya, belum banyak yang dapat menunjukan keuntungan nyata dari penggunaan AI tersebut. Menurut Goldman Sachs, sebanyak 58% dari perusahaan dalam indeks S&P 500 menyebut AI pada panggilan laporan kuartal kedua mereka, namun hanya sedikit yang dapat mengkuantifikasi pengaruh AI secara langsung terhadap pendapatan mereka. Survei lain juga menunjukkan bahwa lebih dari 80% perusahaan belum merasakan dampak signifikan AI pada keuntungan. Investasi besar-besaran saat ini terutama dilakukan oleh perusahaan hyperscaler seperti Amazon, Microsoft, Google, Meta, dan Oracle yang diperkirakan mengalokasikan Rp 6.15 quadriliun ($368 miliar) untuk proyek modal tahun 2025, meningkat dari tahun-tahun sebelumnya. Investasi ini juga menguntungkan perusahaan pembuat chip dan penyedia infrastruktur lainnya. Namun, dua fase berikutnya dari perkembangan AI—yaitu peningkatan pendapatan dari produk perangkat lunak yang dilengkapi AI dan pertumbuhan produktivitas secara luas di berbagai sektor—masih belum jelas hasilnya. Pasar pun masih menunggu bukti nyata dari efek AI terhadap laba perusahaan, dan ada kekhawatiran jika manfaat tersebut tidak secepat yang diperkirakan. Goldman Sachs mengingatkan bahwa jika pengeluaran untuk AI kembali ke level tahun 2022, hal ini dapat mengurangi perkiraan penjualan tahun 2026 hingga Rp 16.70 quadriliun ($1 triliun) dan menurunkan nilai pasar S&P 500 antara 15% hingga 20%. Ini menunjukkan risiko besar dari terlalu rekomendasi berlebihan terhadap hype AI saat ini.

Analisis Ahli

Goldman Sachs Analysts
AI masih dalam tahap awal dengan fokus investasi besar pada infrastruktur; keuntungan dari produk AI dan efisiensi masih harus dibuktikan di fase berikutnya.