Wapres Gibran Sapa Pengemudi Ojol dan Bagikan Sembako Pasca Demonstrasi
Finansial
Kebijakan Fiskal
04 Sep 2025
143 dibaca
2 menit

Rangkuman 15 Detik
Gibran Rakabuming Raka aktif berinteraksi dengan pengemudi ojek online dan masyarakat.
Bantuan sembako diberikan sebagai bentuk dukungan kepada warga yang terdampak.
Kunjungan ke sekolah-sekolah menunjukkan komitmen Gibran dalam memperhatikan pendidikan dan masyarakat.
Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka kembali melakukan kunjungan langsung untuk menyapa pengemudi ojek online (ojol) dan warga sekitar Stasiun Gondangdia, Jakarta Pusat. Kegiatan ini dilakukan untuk memberikan semangat dan dukungan moral kepada pengemudi ojol yang sehari-hari berjuang memenuhi kebutuhan hidupnya.
Dalam kunjungan tersebut, Gibran memberikan bantuan paket sembako berupa beras, gula, minyak goreng, dan kebutuhan pokok lainnya. Aksi ini juga menjadi wujud perhatian pemerintah terhadap kewajaran kebutuhan dasar masyarakat di tengah situasi sosial yang kurang stabil pasca demonstrasi yang terjadi beberapa waktu lalu.
Sebelumnya, pada 31 Agustus, Gibran mengundang delapan mitra driver ojek online dari empat platform berbeda untuk berdiskusi di Istana Wakil Presiden. Diskusi ini bertujuan menyerap aspirasi para pengemudi yang selama ini menjadi tulang punggung transportasi online di kota besar.
Meski mendapat respons positif dari sebagian netizen yang menghargai kepedulian Wapres, ada juga yang mempertanyakan efektivitas aksi sembako tersebut mengingat tuntutan masyarakat yang masih belum sepenuhnya ditanggapi secara substansial oleh pemerintah.
Para platform ojol memastikan bahwa mitra driver yang hadir dalam diskusi merupakan driver aktif dan resmi terdaftar, sehingga legitimasi aspirasi mereka dapat dipertanggungjawabkan. Kunjungan dan dialog ini menjadi langkah awal yang diharapkan mampu memperbaiki komunikasi antara pemerintah, mitra ojol, dan masyarakat luas.
Analisis Ahli
Dr. Indah Pramesti (Sosiolog)
Pendekatan komunikasi langsung seperti yang dilakukan Wapres Gibran penting untuk membangun kepercayaan publik, terutama dalam masa ketidakpastian sosial. Namun, tanpa program jangka panjang yang jelas, kunjungan semacam ini hanya akan bersifat simbolis dan tidak menyelesaikan akar permasalahan.

