Mengapa Lalat Buah Bisa Tidur Tapi Tetap Tangguh Bangun Saat Bahaya
Sains
Neurosains and Psikologi
25 Agt 2025
41 dibaca
1 menit

Rangkuman 15 Detik
Penelitian ini menunjukkan bagaimana lalat buah dapat tidur sambil tetap waspada terhadap rangsangan.
Gelombang lambat dalam otak memainkan peran penting dalam proses tidur dan respons terhadap stimuli.
Temuan ini dapat memberikan wawasan tentang prinsip tidur yang mungkin berlaku secara universal di antara berbagai spesies, termasuk manusia.
Para peneliti dari Institut Neurofisiologi Charité di Berlin mempelajari lalat buah untuk memahami bagaimana hewan bisa tertidur namun tetap waspada terhadap bahaya. Mereka menemukan bahwa saat tidur, dua jaringan otak lalat menghasilkan gelombang listrik lambat yang mempengaruhi cara lalat merespons rangsangan visual.
Satu jaringan otak berfungsi untuk mengaktifkan respons terhadap rangsangan, sedangkan jaringan lainnya menghambatnya. Saat kedua jaringan aktif bersama, jaringan penghambat biasanya lebih dominan, sehingga lalat bisa memudarkan sensasi lingkungannya dan tertidur.
Namun, terdapat fluktuasi ritmis dalam gelombang listrik otak yang menciptakan jeda pendek, atau jendela waktu, ketika rangsangan kuat dapat menembus hambatan penghambatan. Inilah alasan mengapa lalat dapat terbangun jika ada stimulus yang cukup kuat.
Penelitian ini mengusulkan bahwa mekanisme serupa mungkin terjadi pada manusia, di mana struktur otak seperti thalamus berperan mengatur keseimbangan antara istirahat dan kewaspadaan selama tidur. Hal ini bisa menjadi prinsip universal tidur pada hewan.
Walaupun hasil ini sangat menjanjikan, peneliti menekankan bahwa masih diperlukan banyak studi lanjutan untuk membuktikan konsep ini secara menyeluruh, baik pada lalat maupun pada manusia, agar kita bisa memahami lebih dalam tentang fungsi dan mekanisme tidur yang kompleks.
Analisis Ahli
David Owald
Menjelaskan bahwa ditemukan jaringan aktivasi dan inhibisi yang secara halus mengatur tidur lalat, memungkinkan bangun ketika rangsangan kuat datang, dan diduga prinsip ini bersifat universal bagi semua hewan termasuk manusia.

