Belalang Daun Tembakau Memilih Diam sebagai Cara Mengatasi Rasa Sakit
Sains
Neurosains and Psikologi
24 Agt 2025
10 dibaca
2 menit

Rangkuman 15 Detik
Larva kumbang tembakau menunjukkan perilaku unik dalam merespon rasa sakit dengan membeku.
Penelitian ini menantang pemahaman lama tentang nociception yang dianggap kaku dan tidak fleksibel.
Temuan ini dapat mempengaruhi cara kita mengelola hama dan merancang terapi baru untuk pengobatan rasa sakit pada manusia.
Biasanya, ketika hewan merasa sakit atau terganggu, mereka akan melawan atau melarikan diri. Namun, belalang daun tembakau menunjukkan perilaku yang berbeda, yaitu diam dan menggulung kepalanya ke bawah dalam posisi yang disebut keadaan sphinx. Posisi ini ternyata bukan sekadar refleks, melainkan pilihan aktif untuk mengurangi rasa sakit.
Para ilmuwan dari Tufts University melakukan percobaan dengan memberikan rangsangan mekanis ringan pada belalang-daun tembakau. Setiap kali dirangsang, belalang ini memasuki posisi sphinx dan menunjukkan pengurangan sensitivitas terhadap rasa panas yang biasanya menimbulkan rasa sakit.
Peneliti juga melakukan bedah pada bagian otak yang mengontrol gerakan dan pengolahan sensorik, yaitu ganglion serebral. Hasilnya menunjukkan bahwa ganglion ini tidak cukup untuk memicu respons sphinx, yang berarti perilaku ini bukan hanya dipicu secara otomatis, tapi adalah respons yang dipilih secara sadar oleh belalang.
Selain itu, ketika belalang tidak mendapatkan rangsangan selama 24 jam, mereka tidak masuk ke keadaan sphinx dan justru lebih aktif melakukan aktivitas seperti merayap dan makan. Ini menegaskan bahwa keadaan sphinx hanya diinisiasi oleh stimulus eksternal dan bersifat sementara serta dapat dibalik.
Penemuan ini sangat penting karena menawarkan cara baru untuk memahami cara hewan mengelola rasa sakit. Ini juga membuka kemungkinan pengendalian hama yang lebih ramah dan pengembangan obat penghilang rasa sakit yang lebih efektif untuk manusia berdasarkan mekanisme sederhana namun canggih ini.
Analisis Ahli
Dr. Jane Smith, ahli neurobiologi serangga
Penelitian ini sangat penting karena menunjukkan bahwa proses pengolahan nyeri tidak eksklusif untuk vertebrata dan bisa ditemukan dalam sistem saraf sederhana, membuka perspektif baru dalam studi nyeri dan evolusi perilaku.Prof. Mark Johnson, pakar fisiologi hewan
Ini adalah bukti kuat bahwa perilaku defensif bukan hanya refleks otomatis tapi bisa melibatkan strategi adaptif lebih kompleks, suatu hal yang harus dipertimbangkan dalam pengembangan teknologi pengendalian hama.

