AI summary
Kebangkrutan Synapse berdampak besar pada ribuan nasabah yang kehilangan akses ke dana mereka. Perselisihan dengan Evolve Bank menjadi salah satu penyebab utama kebangkrutan perusahaan fintech ini. Nasabah yang terdampak berusaha untuk memperjuangkan hak mereka melalui kelompok yang dibentuk untuk mendapatkan perhatian publik. Synapse, perusahaan fintech yang menghubungkan startup fintech ke bank, mengalami kebangkrutan pada April 2024. Hal ini menyebabkan kerugian besar bagi para nasabah yang tidak bisa mengakses uang mereka. Total dana yang hilang diperkirakan mencapai Rp1,5 triliun atau sekitar US$96 juta.Masalah bermula karena perselisihan antara Synapse dengan Evolve Bank terkait saldo nasabah. Synapse mematikan akses sistem utama untuk memproses transaksi, mengakibatkan kegagalan operasi dan banyak nasabah kehilangan akses ke rekening mereka selama berbulan-bulan.Beberapa nasabah kehilangan seluruh atau sebagian besar tabungannya, seperti Kayla Morris yang kehilangan sekitar Rp4,6 miliar dan Zach Jacobs yang kehilangan Rp1,5 miliar. Mereka lalu membentuk kelompok bernama Fight For Our Funds untuk mendorong perhatian publik dan politisi membantu penyelesaian kasus ini.Pada April 2025, Wali Amanat Synapse mengajukan laporan ke pengadilan agar kasus ini dialihkan dari Bab 11 (reorganisasi) ke Bab 7 (likuidasi). Ini berarti aset perusahaan akan dijual untuk membayar kreditor dan kemungkinan operasi Synapse akan sepenuhnya berhenti.Kasus ini menjadi peringatan tentang risiko fintech yang beroperasi tanpa izin perbankan dan sangat bergantung pada bank partner. Regulator dan masyarakat perlu meningkatkan pengawasan agar nasabah tidak mengalami kerugian besar di masa depan.
Kegagalan Synapse menyoroti risiko besar fintech yang bertindak tanpa izin perbankan langsung dan sangat bergantung pada mitra bank. Regulasi yang lebih ketat dan transparansi lebih diperlukan agar nasabah terlindungi dan perusahaan fintech tidak mengambil risiko sistemik terhadap dana nasabah.