Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Harga IPO di AS Dinilai Terlalu Rendah, Perusahaan Kehilangan Miliaran

Finansial
Investasi dan Pasar Modal
investment-and-capital-markets (7mo ago) investment-and-capital-markets (7mo ago)
22 Agt 2025
179 dibaca
2 menit
Harga IPO di AS Dinilai Terlalu Rendah, Perusahaan Kehilangan Miliaran

Rangkuman 15 Detik

Harga penawaran yang konservatif dapat menguntungkan investor tetapi merugikan perusahaan dalam hal penggalangan dana.
Alternatif seperti daftar langsung mulai dipertimbangkan oleh perusahaan untuk mengatasi masalah penetapan harga IPO.
Permintaan yang tinggi dari investor ritel dapat mempengaruhi hasil debut IPO, tetapi seringkali tidak diperhitungkan dalam proses tradisional.
Tahun ini, banyak perusahaan besar seperti Figma dan Circle yang melakukan penawaran umum perdana (IPO) di Amerika Serikat dan mencatat kenaikan harga saham pada hari pertama yang sangat tinggi, rata-rata 36%. Kenaikan ini jauh melampaui prediksi kenaikan ideal antara 15% sampai 20% yang biasanya cukup untuk memberikan keuntungan sekaligus menghindari kerugian bagi perusahaan penerbit saham. Namun, kenaikan harga saham yang sangat tinggi ini menimbulkan pertanyaan apakah bank-bank investasi yang mengatur IPO menetapkan harga yang terlalu rendah saat penawaran saham. Meski tujuan konservasi risiko dan menghindari kegagalan pasar, hasilnya perusahaan kehilangan dana besar, yaitu sampai 6,1 miliar dolar AS yang bisa didapat jika harga IPO lebih tinggi namun tetap masuk akal. Para analis dan pelaku industri mengatakan bahwa pasar sedang menghadapi ketidakpastian akibat tarif perdagangan AS dan suku bunga tinggi sehingga bank melangkah hati-hati dalam menentukan harga IPO agar perusahaan yang baru melantai tidak mengalami kegagalan yang memalukan. Hal ini juga untuk menjaga reputasi dan mempermudah perusahaan mengakses dana tambahan di masa depan. Di sisi lain, kritik mengungkapkan bahwa proses umum IPO tidak cukup memperhatikan investor ritel, yang saat ini semakin aktif dan dapat menyebabkan lonjakan harga saham tajam di hari pertama. Fintech seperti Robinhood mencoba mengatasi ini dengan memberikan akses IPO ke investor ritel, namun pasar masih dalam masa adaptasi setelah beberapa tahun relatif tertutup. Alternatif seperti direct listing dan SPAC juga menjadi pilihan beberapa perusahaan, namun masih terbatas karena banyak risiko dan regulasi. Meski begitu, IPO tradisional tetap menjadi pilihan utama, terutama dengan semakin banyaknya perusahaan teknologi dan fintech yang bersiap melantai di kuartal terakhir tahun ini.

Analisis Ahli

Lukas Muehlbauer
Harga konservatif IPO adalah strategi untuk membangun kepercayaan jangka panjang dan memudahkan akses modal berikutnya.
Phil Haslett
Proses IPO tradisional gagal memasukkan permintaan besar dari investor ritel, sehingga menimbulkan ketidaksesuaian harga awal.
Tomasz Tunguz
Pasar IPO yang tertutup selama bertahun-tahun membuat bank sulit memperkirakan permintaan, mendorong harga konservatif.