Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Kenapa Koloni Lebah AS Rontok Parah, China Malah Meningkat?

Sains
Iklim dan Lingkungan
climate-and-environment (7mo ago) climate-and-environment (7mo ago)
19 Agt 2025
234 dibaca
2 menit
Kenapa Koloni Lebah AS Rontok Parah, China Malah Meningkat?

Rangkuman 15 Detik

Keruntuhan koloni lebah di AS disebabkan oleh mite yang resisten terhadap mitisida.
Cina berhasil meningkatkan jumlah koloni lebah melalui praktik manajemen yang lebih baik.
Pentingnya penelitian dan inovasi dalam pertanian untuk menghadapi tantangan lingkungan.
Dalam kurun waktu enam bulan sejak Juni 2024, Amerika Serikat mengalami kerugian besar pada koloni lebahnya hingga mencapai 62 persen. Penyebab utama adalah virus yang disebarkan oleh tungau parasit yang telah menjadi kebal terhadap bahan kimia yang selama ini dipakai untuk mengendalikan mereka. Hal ini memang sangat mengkhawatirkan karena lebah berperan penting dalam proses penyerbukan yang mendukung sekitar sepertiga produksi pertanian di negara tersebut. Di sisi lain, Tiongkok justru menunjukkan perkembangan yang berlawanan dengan meningkatkan jumlah koloninya sebesar 25 persen menjadi total 15 juta. Angka ini menempatkan negara tersebut sebagai produsen hasil lebah terbesar di dunia. Para ahli dari Institute of Apicultural Research di bawah Chinese Academy of Agricultural Sciences memaparkan bahwa keberhasilan ini tidak lepas dari praktik tata kelola lebah yang berbeda dengan Amerika Serikat. Menurut Profesor Xu Shufa, perbedaan utama terletak pada model pemeliharaan koloni lebah. Di Amerika Serikat, para peternak memelihara lebah dalam jumlah sangat besar di satu tempat dan mengangkut mereka ke area yang kaya nektar untuk jangka waktu lama. Mereka jarang melakukan intervensi hingga waktunya panen madu tiba. Sebaliknya, model di Tiongkok lebih intensif dengan pengelolaan yang lebih teliti. Isu utama yang dihadapi Amerika Serikat adalah munculnya tungau yang sudah kebal terhadap Amitraz, mitisida utama yang digunakan selama ini sebagai pengendali parasit. Tungau-tungau ini membawa virus yang fatal bagi lebah sehingga menyebabkan kematian massal. Hal ini menunjukkan perlunya inovasi dan pendekatan baru dalam pengendalian parasit agar koloni lebah bisa diselamatkan. Ke depan, penting bagi Amerika Serikat untuk belajar dari praktik manajemen Tiongkok yang lebih aktif dan adaptif untuk memperbaiki kondisi yang ada. Selain itu, pengembangan mitisida baru dan metode pengelolaan yang berkelanjutan akan menjadi kunci untuk menjaga kelangsungan populasi lebah yang berperan krusial pada ekosistem dan produksi pangan.

Analisis Ahli

Xu Shufa
Manajemen yang berbeda antara Tiongkok dan AS adalah faktor utama dalam perbedaan populasi lebah yang signifikan; intervensi aktif dan pengelolaan terfokus mampu mencegah kerugian besar akibat tungau parasit.