Perplexity AI Tawar Rp 576.15 triliun (US$34,5 Miliar) Beli Browser Chrome Google di Tengah Tekanan Antitrust
Teknologi
Kecerdasan Buatan
13 Agt 2025
210 dibaca
2 menit

Rangkuman 15 Detik
Perplexity AI mengajukan tawaran akuisisi yang signifikan untuk browser Chrome.
Tawaran ini mencerminkan pentingnya browser dalam persaingan kecerdasan buatan.
Alphabet menghadapi tantangan regulasi yang semakin meningkat terkait dengan monopoli di industri pencarian online.
Perplexity AI, perusahaan start-up AI yang baru berusia tiga tahun dan bernilai sekitar 14 miliar dolar AS, mengajukan penawaran pembelian Chrome milik Alphabet senilai 34,5 miliar dolar AS secara tunai. Tujuan penawaran ini adalah untuk mengakses lebih dari tiga miliar pengguna browser tersebut dan memperkuat posisi Perplexity dalam persaingan pencarian berbasis AI yang semakin ketat.
Google menghadapi tekanan hukum terkait dugaan monopoli dalam pencarian online yang menyebabkan Departemen Kehakiman AS menuntut divestasi Chrome sebagai bagian dari solusi antitrust. Google sendiri menolak untuk menjual Chrome dan berencana mengajukan banding atas putusan tersebut. Proses hukum ini diprediksi dapat berlangsung bertahun-tahun karena adanya kemungkinan banding hingga Mahkamah Agung.
Perplexity berjanji akan mempertahankan kode Chromium yang open source, menginvestasikan 3 miliar dolar AS selama dua tahun ke depan, dan tidak akan mengubah mesin pencari default Chrome. Penawaran ini disampaikan tanpa komponen ekuitas untuk menjaga pilihan pengguna dan mengurangi kekhawatiran persaingan.
Selain Perplexity, beberapa pihak lain seperti OpenAI, Yahoo, dan Apollo Global Management juga menunjukkan minat terhadap Chrome. Namun, Google diperkirakan akan berjuang keras untuk mempertahankan browser ini karena pentingnya Chrome dalam strategi AI Google, termasuk peluncuran fitur AI baru seperti rangkuman pencarian otomatis.
Penawaran oleh Perplexity mencerminkan pergeseran tren di mana browser kembali menjadi pintu utama ke lalu lintas pencarian dan data pengguna, sehingga menjadi aset strategis dalam persaingan teknologi besar. Meski demikian, kemungkinan besar transaksi ini akan terhambat oleh proses hukum yang panjang dan rintangan politik.
Analisis Ahli
Herbert Hovenkamp
Proses hukum akan panjang karena hakim kemungkinan menunda keputusan sampai proses banding selesai, yang dapat memakan waktu bertahun-tahun.
