Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Kelinci Bertanduk Di Colorado: Fakta Virus Shope Dan Imbauan Satwa Liar

Sains
Iklim dan Lingkungan
News Publisher
15 Agt 2025
1343 dibaca
2 menit
Kelinci Bertanduk Di Colorado: Fakta Virus Shope Dan Imbauan Satwa Liar

TLDR

Pertumbuhan horn pada kelinci disebabkan oleh Shope papillomavirus yang tidak berbahaya bagi manusia.
Virus ini umum terjadi di populasi kelinci liar dan dapat diatasi oleh sistem imun mereka.
Penduduk di Fort Collins diminta untuk tidak mendekati kelinci yang terinfeksi dan membiarkan alam mengambil jalannya.
Di Fort Collins, Colorado, warga melaporkan penampakan kelinci cottontail dengan pertumbuhan menyerupai tanduk di wajah mereka. Pertumbuhan ini disebabkan oleh virus yang disebut Shope papillomavirus, yang menimbulkan kutil keras di area wajah kelinci. Meski terlihat menyeramkan, virus ini tidak berbahaya bagi manusia atau hewan peliharaan.Virus Shope papillomavirus menyebar dari kelinci ke kelinci melalui kutu dan kutu daun yang aktif di musim panas. Pertumbuhan pada wajah kelinci ini bisa menghalangi penglihatan atau makan jika terlalu besar, namun kebanyakan kelinci mampu melawan virus ini hingga pertumbuhannya menghilang.Virus ini sudah dikenal sejak tahun 1930-an, ditemukan oleh Dr. Richard E. Shope, dan penelitiannya menjadi landasan penting untuk memahami virus HPV pada manusia. Konon virus ini juga menjadi asal mula mitos tentang 'jackalope', kelinci bertanduk yang populer dalam cerita rakyat Amerika.Pihak berwenang di Colorado Parks and Wildlife mengingatkan masyarakat untuk tidak mendekati atau menangani kelinci yang terinfeksi agar tidak mengganggu proses penyembuhan alami dan mencegah stres pada hewan. Mereka juga memastikan virus ini hanya menular antar kelinci dan tidak menular ke manusia atau hewan peliharaan.Beberapa warga lokal memperhatikan kelinci yang sama dengan pertumbuhan ini muncul selama beberapa tahun berturut-turut, menunjukkan bahwa virus ini dapat berlangsung lama tapi tidak selalu fatal bagi kelinci. Habitat liar perlu dibiarkan menjalani siklus alami agar ekosistem tetap seimbang.
Baca Berita Lebih Cepat,Lebih Cerdas
Rangkuman berita terkini yang dipersonalisasi untukmu — tanpa perlu baca panjang lebar.