AI summary
Pengembangan tangki bahan bakar titanium melalui 3D printing memiliki potensi untuk meningkatkan efisiensi produksi di industri luar angkasa. Teknologi DED memungkinkan pembuatan komponen kustom dengan lebih cepat dan biaya yang lebih rendah dibandingkan metode tradisional. Uji ketahanan tangki menunjukkan kemampuan untuk bertahan dalam kondisi ekstrem, yang penting untuk aplikasi luar angkasa. Tim ilmuwan dari Korea Institute of Industrial Technology (KITECH) berhasil membuat tangki bahan bakar ruang angkasa berukuran besar menggunakan teknologi cetak 3D titanium. Tangki ini didesain khusus untuk tahan terhadap kondisi ekstrem seperti suhu sangat dingin dan tekanan tinggi yang biasa ditemui di ruang angkasa.Mereka menggunakan teknik Directed Energy Deposition (DED) yang memanfaatkan laser untuk melebur kawat titanium dan membentuk bagian tangki secara bertahap. Cara ini memungkinkan pencetakan yang lebih cepat dan fleksibel dibanding cara tradisional yang menggunakan cetakan tetap.Tangki tersebut berdiameter 640mm dan terbuat dari paduan titanium Ti64. Ini merupakan hasil kerja sama antara KITECH, Korea Aerospace Research Institute (KARI), beberapa perusahaan industri, dan universitas. Tangki berhasil melewati tes ketahanan tekanan 330 bar pada suhu -196°C.Proses pembuatan tangki memakan waktu hanya beberapa minggu, lebih singkat daripada metode penempaan konvensional. Mereka membuat dua hemisfer yang kemudian digabungkan dengan pengelasan, memastikan kualitas sambungan yang kuat dan tahan uji.Meskipun hasil pengujian sangat menjanjikan, tim masih perlu melakukan tes tekanan siklik berulang untuk memastikan ketahanan tangki saat dipakai secara berulang di luar angkasa. Jika berhasil, teknologi ini akan merevolusi produksi komponen ruang angkasa dengan biaya dan waktu yang jauh lebih efisien.
Teknologi Directed Energy Deposition (DED) membuka era baru produksi komponen antariksa yang memungkinkan fleksibilitas desain tanpa perlu cetakan mahal dan waktu produksi lama. Meskipun hasil awal menjanjikan, pengujian siklik dan ketahanan jangka panjang harus menjadi fokus utama sebelum diproduksi secara masal untuk misi luar angkasa kritikal.