AI summary
Rusia telah mengembangkan arsenal nuklir meskipun ada moratorium yang diangkat. Perjanjian INF telah berakhir, meningkatkan risiko perlombaan senjata. Ketegangan antara Rusia dan AS semakin meningkat, memicu kekhawatiran akan keamanan regional. Rusia mengungkapkan bahwa mereka terus mengembangkan dan memiliki persediaan besar sistem misil nuklir jarak menengah dan pendek meskipun ada moratorium yang diterapkan sebelumnya hanya untuk penempatan. Hal ini menimbulkan kekhawatiran karena memungkinkan perlombaan senjata baru antara negara-negara besar.Perjanjian INF 1987 yang mengatur pelarangan misil tersebut kini sudah tidak berlaku setelah Amerika Serikat menarik diri pada 2019 dengan tuduhan bahwa Rusia melanggar perjanjian tersebut. Tanpa perjanjian ini, kedua negara bebas mengembangkan dan memasang misil yang sebelumnya dilarang.Rusia menilai bahwa keputusan mereka adalah respons terhadap tindakan Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya yang dianggap mengancam keamanan Rusia, termasuk rencana untuk menempatkan misil jarak menengah dan pendek di wilayah dekat Rusia.Ketegangan antara kedua negara semakin memuncak setelah Presiden AS saat itu, Donald Trump, mengerahkan dua kapal selam nuklir lebih dekat ke wilayah Rusia sebagai balasan atas pernyataan provokatif dari pejabat Rusia. Ini menandakan babak baru perselisihan militer yang serius.Dengan tidak adanya pembatasan perjanjian kontrol senjata, risiko perlombaan senjata nuklir dan potensi konflik militer kini meningkat, membuat keamanan global menjadi sangat rentan.
Penghentian moratorium oleh Rusia menunjukkan bahwa diplomasi arms control saat ini sangat rapuh dan sangat dipengaruhi oleh ketidakpercayaan. Hal ini membuka jalan bagi perlombaan senjata yang membahayakan stabilitas global dan berpotensi membawa risiko besar bagi keamanan internasional.