TLDR
Identifikasi bakteri sebagai penyebab sindrom pembusukan bintang laut memberikan harapan untuk memulihkan populasi mereka. Wabah ini tidak hanya berdampak pada bintang laut, tetapi juga mengganggu ekosistem kelp yang lebih luas. Penelitian ini menunjukkan pentingnya pendekatan intervensi dan konservasi untuk melindungi spesies laut yang terancam. Sea star wasting syndrome adalah penyakit yang telah menewaskan miliaran bintang laut di sepanjang pantai Pasifik sejak 2013. Penyakit ini menyebabkan bintang laut mengalami pembusukan jaringan, hilangnya anggota tubuh, dan kematian total dalam waktu singkat.Setelah bertahun-tahun berbagai teori, para ilmuwan akhirnya menemukan bahwa bakteri Vibrio pectenicida adalah penyebab utama penyakit mengerikan ini. Penelitian fokus pada cairan internal bintang laut yang mengungkap konsentrasi tinggi bakteri tersebut.Salah satu korban paling parah adalah sunflower sea star yang populasinya menurun drastis hingga lebih dari 90 persen dalam lima tahun. Hal ini mengganggu keseimbangan ekosistem karena bintang laut ini berperan penting sebagai predator utama.Ketiadaan predator ini menyebabkan ledakan populasi bulu babi yang merusak hutan rumput laut, habitat penting bagi berbagai kehidupan laut. Hingga 95 persen hutan rumput laut di beberapa wilayah telah hilang dalam satu dekade terakhir.Kini dengan penyebab penyakit yang diketahui, para ilmuwan sedang mengembangkan strategi penyelamatan, seperti mencari populasi yang tahan penyakit, pemeliharaan bintang laut di penangkaran, dan penggunaan probiotik untuk meningkatkan kekebalan.