Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Palantir Dominasi AI Militer AS dengan Kontrak Miliaran Dolar di Era Trump

Teknologi
Kecerdasan Buatan
artificial-intelligence (7mo ago) artificial-intelligence (7mo ago)
04 Agt 2025
14 dibaca
1 menit
Palantir Dominasi AI Militer AS dengan Kontrak Miliaran Dolar di Era Trump

Rangkuman 15 Detik

Palantir Technologies telah menjadi pemain kunci dalam kontrak militer AS.
Penggunaan AI dalam pemerintahan AS telah ditingkatkan untuk efisiensi biaya.
Kontrak besar dengan Palantir menunjukkan komitmen pemerintah AS terhadap teknologi canggih.
Palantir Technologies, meskipun sebelumnya kurang dikenal, kini menjadi sorotan besar karena perannya dalam pemerintahan Donald Trump dan militer Amerika Serikat. Startup ini berhasil menggandakan valuasinya sepanjang tahun 2025 menjadi lebih dari Rp 6.08 quadriliun (US$364 miliar) . Perusahaan ini menandatangani kontrak senilai Rp 167.00 triliun (US$10 miliar) dengan militer AS, sebuah kesepakatan besar yang merangkum 75 kontrak menjadi satu, bertujuan untuk meningkatkan efisiensi waktu dan menyiapkan pertahanan masa depan. Kontrak ini memberikan kerangka yang komprehensif untuk memenuhi kebutuhan data dan perangkat lunak militer, sekaligus memberi fleksibilitas lebih bagi pemerintah dalam alokasi anggaran militer di masa depan. Palantir juga mengirimkan dua sistem AI pertama ke Angkatan Darat AS dengan nilai kontrak Rp 2.97 triliun (US$178 juta) , dan Departemen Pertahanan AS menambah dana untuk proyek AI Maven Smart Systems sebesar Rp 13.28 triliun (US$795 juta) . Kesepakatan besar ini menggambarkan bagaimana Palantir memainkan peran penting dalam meningkatkan efisiensi biaya pemerintahan dengan teknologi kecerdasan buatan, di tengah upaya pemangkasan anggaran dan sumber daya oleh Departemen Efisiensi Pemerintahan AS.

Analisis Ahli

Andrew Ng
Palantir adalah contoh konkret bagaimana AI dapat digunakan untuk aplikasi strategis yang sangat kompleks seperti militer dan pemerintahan, membuka pintu untuk revolusi teknologi dalam banyak sektor.
Mary Cummings
Integrasi AI dalam operasional militer memerlukan pengawasan etis dan regulasi yang ketat, dan kontrak besar seperti ini menuntut transparansi agar tidak terjadi penyalahgunaan teknologi.