Peringkat Nasional India Beri Penalti bagi Universitas dengan Banyak Artikel Ditolak karena Curang
Bisnis
Manajemen dan Strategi Bisnis
01 Agt 2025
259 dibaca
2 menit

Rangkuman 15 Detik
Pemerintah India mulai menghukum institusi untuk jumlah penarikan artikel yang tinggi.
Penarikan artikel dapat terjadi karena penyalahgunaan atau kesalahan yang jujur.
Kebijakan baru ini mungkin tidak cukup untuk mengubah insentif yang mendorong publikasi berkualitas rendah.
Pemerintah India kini mulai memberi penalti kepada universitas yang memiliki banyak artikel ilmiah yang ditarik kembali karena masalah pelanggaran integritas penelitian. Ini merupakan langkah pertama dalam sistem peringkat nasional yang memperhitungkan retraction sebagai indikator kualitas riset.
India memiliki angka retraction yang cukup tinggi, yaitu 2 artikel dari setiap seribu diterbitkan harus ditarik kembali, biasanya karena indikasi plagiarisme atau kecurangan. Hal ini lebih buruk dibandingkan Amerika Serikat yang hanya mempunyai angka kurang dari 1 per 1000.
National Institutional Ranking Framework (NIRF) adalah sistem peringkat utama di India yang kini mulai mengukur jumlah artikel yang ditarik kembali dari database Scopus dan Web of Science dalam tiga tahun terakhir. Penalti yang diberikan untuk tahun ini masih bersifat simbolik.
Para ahli seperti Achal Agrawal mendukung kebijakan ini tapi mengingatkan pentingnya penalti yang efektif agar menjadi pencegah. Namun, Moumita Koley berpendapat bahwa perubahan kebijakan peringkat saja tidak cukup tanpa perubahan insentif riset yang menitikberatkan kuantitas daripada kualitas.
Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran dan integritas riset di India, dan institusi dengan praktik riset tidak etis bisa dikurangi jumlahnya agar kualitas ilmiah di negara tersebut dapat meningkat secara signifikan.
Analisis Ahli
Achal Agrawal
Retractions adalah sinyal penting pelanggaran yang harus diawasi ketat dan penalti harus cukup keras agar menjadi deterrent.Moumita Koley
Pengenaan sanksi pada retracted paper menunjukkan perhatian pada masalah integritas, tapi insentif kuantitas publikasi harus diubah agar perubahan nyata terjadi.

