TLDR
Lebih dari separuh penulis pertama di konferensi ACL berasal dari China, menunjukkan peningkatan signifikan dalam penelitian kecerdasan buatan di negara tersebut. Liang Wenfeng dan timnya di DeepSeek meraih penghargaan untuk penelitian yang berfokus pada efisiensi model AI. Penelitian oleh Yang Yaodong dari Peking University memperlihatkan kemajuan dalam pemahaman tentang model bahasa dan kerentanannya. Konferensi Association for Computational Linguistics (ACL) di Wina, Austria, tahun ini menunjukkan dominasi para peneliti asal Cina, khususnya dalam bidang kecerdasan buatan terkait pemrosesan bahasa alami.Lebih dari separuh penulis pertama pada makalah yang diterima berasal dari Cina, sebuah peningkatan besar dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya kurang dari 30 persen.Paper terbaik yang dianugerahi di konferensi ini berasal dari tim DeepSeek, startup AI asal Cina, dengan karya mereka yang bernama ‘Native Sparse Attention’ yang memungkinkan model AI bekerja lebih efisien dan hemat biaya.Selain itu, tim yang dipimpin oleh Yang Yaodong dari Universitas Peking juga menerima penghargaan atas penelitian mereka yang mengeksplorasi alasan kenapa alignment model bahasa sering rapuh atau rentan.Keberhasilan ini memperlihatkan kemampuan dan kemajuan peneliti Cina yang kini mulai melampaui rekan-rekan mereka di Amerika Serikat dalam bidang riset dasar kecerdasan buatan.