AI summary
Sebagian besar peneliti terkemuka dalam kecerdasan buatan berasal dari Tiongkok. Kerjasama antara organisasi internasional dan perusahaan teknologi lokal penting untuk mengidentifikasi potensi peneliti. Kontribusi peneliti keturunan Tiongkok di AS menunjukkan dampak global mereka dalam bidang kecerdasan buatan. Sebuah studi besar telah mengkaji hampir 200.000 peneliti dan 100.000 makalah penting di bidang kecerdasan buatan (AI) untuk mengidentifikasi 100 ahli teratas dunia. Studi ini menunjukkan bahwa para ahli berdarah Tionghoa mendominasi dalam bidang AI, baik yang berlokasi di Tiongkok maupun di Amerika Serikat.Menurut laporan, setengah dari para ahli AI terkemuka dunia bekerja dan tinggal di Tiongkok, dengan total 50 ahli yang berketurunan Tionghoa. Selain itu, 20 ahli lainnya bekerja di Amerika Serikat, dan setengah dari mereka juga berketurunan Tionghoa, menjadikan total 65 ahli AI dunia berakar dari keturunan Tionghoa.Penilaian dilakukan dengan menggunakan data dari berbagai publikasi terkemuka dan konferensi penting dalam bidang AI, di antaranya Journal of Machine Learning Research dan IEEE Transactions on Pattern Analysis and Machine Intelligence. Periode analisis berlangsung dari tahun 2015 sampai 2024.Salah satu contoh tokoh penting adalah Jun-Yan Zhu, seorang asisten profesor di Carnegie Mellon University di Amerika Serikat, yang termasuk dalam 100 ahli AI teratas berdasarkan data studi ini. Studi ini menunjukkan bahwa kontribusi dari para ilmuwan berdarah Tionghoa sangat besar di bidang kecerdasan buatan.Hasil studi ini dipresentasikan dalam sebuah konferensi di Beijing dan dikerjakan oleh ITPO China yang merupakan bagian dari UNIDO dan perusahaan teknologi asal Shenzhen, Dongbi Data. Studi ini memberikan gambaran penting tentang bagaimana para peneliti keturunan Tionghoa mempengaruhi perkembangan teknologi AI secara global.
Dominasi besar peneliti AI keturunan China menunjukkan betapa pentingnya dukungan negara dan jaringan diaspora dalam mendorong kemajuan riset teknologi tinggi. Namun, ini juga menandakan perlunya negara lain memperkuat investasi dan ekosistem riset mereka agar tidak tertinggal dalam gelombang inovasi AI berikutnya.