Intel Menghadapi Tantangan Besar Meski Ganti CEO, Peluang dari Booming AI Masih Ada
Finansial
Investasi dan Pasar Modal
30 Jul 2025
157 dibaca
2 menit
Rangkuman 15 Detik
Intel menghadapi tantangan besar setelah pergantian CEO dan harus menunjukkan kemajuan pemulihan.
Meskipun ada permintaan tinggi di sektor AI, Intel kesulitan untuk bersaing dengan perusahaan lain seperti Nvidia dan AMD.
Langkah pengurangan biaya dan penyesuaian strategi adalah langkah awal yang penting bagi Intel untuk kembali ke jalur yang benar.
Intel baru saja mengganti CEO dari Pat Gelsinger ke Lip-Bu Tan, namun sayangnya laporan kuartal pertama di bawah kepemimpinan baru menunjukkan hasil yang kurang memuaskan. Pendapatan perusahaan datar dan ada kerugian yang membuat harga saham turun tajam setelah pengumuman. Sektor bisnis yang fokus pada PC dan pusat data mengalami perlambatan, meskipun ada pertumbuhan sedikit di bagian foundry mereka.
Perusahaan ini tengah melakukan pemotongan besar-besaran, termasuk pengurangan tenaga kerja sebesar 15% dari target 20%, serta mengurangi biaya operasional dan belanja modal secara signifikan. Beberapa proyek pembangunan pabrik yang ambisius di Jerman, Polandia, dan Ohio pun diperlambat atau dibatalkan agar pengeluaran bisa disesuaikan dengan permintaan pasar yang belum pasti.
Margin keuntungan Intel juga menurun cukup drastis karena beban biaya yang tidak berulang dan penyusutan alat-alat pabrik yang tidak dapat digunakan lagi, sehingga menimbulkan kerugian yang cukup besar. Namun, tanpa biaya-biaya tersebut, perusahaan sebenarnya masih bisa memperoleh keuntungan kecil. CEO Lip-Bu Tan menegaskan bahwa strategi baru mereka adalah membangun sesuai kebutuhan pelanggan, bukan berinvestasi berlebihan tanpa jaminan hasil.
Sementara itu, kondisi ini sangat kontras dengan perusahaan semikonduktor lain seperti Nvidia, AMD, dan Micron yang menikmati pertumbuhan tajam berkat booming AI. Produk-produk AI dan pusat data sangat diminati, sehingga saham perusahaan-perusahaan ini melambung pesat, sementara Intel justru kesulitan untuk mengikuti tren tersebut.
Intel masih punya kesempatan untuk bangkit, terutama dengan teknologi proses 18A yang mulai diproduksi di Arizona dan diharapkan menjadi fondasi produk generasi mendatang. Namun, sebelum Intel bisa menjadi pilihan investasi yang menarik, pasar dan para investor perlu melihat bukti nyata dari pemulihan perusahaan yang sedang berjalan.
Analisis Ahli
Lisa Su
Sebagai CEO AMD, saya melihat Intel sedang menghadapi tantangan berat yang berasal dari kurangnya inovasi dan perencanaan yang agresif di masa lalu. Namun, penyesuaian saat ini bisa menjadi dasar untuk masa depan yang lebih kuat jika dieksekusi dengan konsisten.Jensen Huang
Nvidia memanfaatkan AI secara optimal, dan saya melihat Intel perlu mengejar ketertinggalan teknologi dan fokus pada kolaborasi ekosistem untuk bisa kembali relevan di pasar chip AI dan data center.