AI summary
Model Aeneas menggunakan AI untuk membantu memulihkan dan menganalisis teks-teks kuno. Kolaborasi antara berbagai universitas dan perusahaan teknologi menghasilkan kemajuan signifikan dalam bidang epigrafi. AI dapat meningkatkan akurasi dan efisiensi dalam penelitian sejarah melalui analisis data besar. Para peneliti telah mengembangkan model AI bernama Aeneas yang dapat membantu dalam memulihkan teks Latin kuno yang hilang tanpa harus tahu seberapa panjang bagian yang hilang itu. Ini sangat membantu karena banyak teks kuno yang rusak dan sulit dianalisis.Model ini dilatih menggunakan data besar yang terdiri atas hampir 177 ribu inskripsi Latin dari beberapa database besar tentang tulisan kuno yang tersebar dari abad ke-7 SM hingga abad ke-8 M. Sebagian dari inskripsi juga memiliki gambar sebagai referensi tambahan.Aeneas mampu tidak hanya mengisi bagian teks yang hilang, tetapi juga memperkirakan segera usia sebuah inskripsi dan menebak dari mana asal tulisan itu berasal secara geografis. Ini dilakukan dengan menggunakan tiga jaringan saraf yang berbeda dalam model tersebut.Ketika para ahli epigrafi menguji model ini, mereka menemukan bahwa kombinasi analisis manusia dan AI meningkatkan akurasi dalam restorasi teks dan penilaian usia. Model mampu memprediksi usia lebih tepat dibandingkan manusia yang bekerja sendiri.Selain memberikan prediksi, Aeneas juga menyediakan daftar inskripsi lain yang mirip untuk mendukung hasilnya. Dengan cara ini, studi epigrafi menjadi lebih cepat, efisien, dan bisa membuka peluang baru dalam memahami sejarah dan bahasa kuno.
Pengembangan model AI seperti Aeneas adalah revolusi dalam teknologi epigrafi, karena dapat secara signifikan mengurangi waktu dan tenaga yang dibutuhkan untuk meneliti prasasti kuno. Namun, AI tetap harus dipandang sebagai alat bantu, bukan pengganti sepenuhnya, karena konteks historis dan interpretasi manusia masih sangat diperlukan untuk validasi akhir.