Rumput Laut Hijau: Kunci Beton Ramah Lingkungan dengan Emisi Lebih Rendah
Sains
Iklim dan Lingkungan
19 Jul 2025
146 dibaca
1 menit

Rangkuman 15 Detik
Penggunaan alga hijau dalam beton dapat secara signifikan mengurangi emisi CO2.
Machine learning dapat mempercepat pengembangan bahan bangunan yang lebih berkelanjutan.
Inovasi dalam bahan bangunan dapat mengarah pada infrastruktur yang lebih ramah lingkungan secara global.
Beton merupakan bahan utama dalam konstruksi modern tapi juga salah satu penyumbang terbesar emisi karbon global, terutama karena semen yang digunakan sebagai pengikatnya. Produksi semen menghasilkan karbon dioksida yang berkontribusi pada perubahan iklim.
Untuk mengurangi dampak lingkungan, tim peneliti dari Universitas Washington dan Microsoft menemukan cara baru dengan menggunakan bubuk rumput laut hijau yang dikeringkan sebagai campuran semen dalam beton. Rumput laut ini menyerap karbon selama pertumbuhannya sehingga membantu mengurangi jejak karbon beton.
Penggunaan machine learning dipakai untuk mempercepat proses pencarian campuran beton terbaik. Biasanya, proses ini butuh waktu bertahun-tahun, tapi dengan teknologi ini, formulasi bisa ditemukan dalam waktu kurang dari sebulan.
Keuntungan lain dari penggunaan rumput laut adalah tidak perlu proses pengolahan rumit sehingga membuatnya lebih murah dan mudah untuk diterapkan secara luas di berbagai wilayah, memungkinkan produksi beton rendah karbon secara lokal.
Para peneliti berharap metode ini bisa dikembangkan untuk berbagai jenis alga atau bahkan limbah makanan lain. Dengan pendekatan ini, mereka melihat masa depan infrastruktur yang lebih hijau dan berkelanjutan, didukung oleh teknologi modern dan sumber daya alam yang melimpah.
Analisis Ahli
Eleftheria Roumeli
Menggunakan material fotosintetik seperti rumput laut tanpa proses mahal adalah kunci untuk menyiasati krisis iklim secara murah dan cepat. Pembelajaran mesin mengubah cara kita melakukan eksperimen sehingga inovasi dapat didorong lebih cepat dari sebelumnya.

