KAIST Ciptakan Otak Robot yang Bisa Abaikan Bahaya dan Rangsangan Aman
Teknologi
Robotika
17 Jul 2025
174 dibaca
1 menit
Rangkuman 15 Detik
KAIST telah mengembangkan sistem saraf buatan yang meniru fungsi saraf biologis untuk robot.
Memristor baru memungkinkan robot untuk bereaksi dengan efisien terhadap rangsangan berbahaya sambil mengabaikan yang tidak berbahaya.
Teknologi ini berpotensi mengubah cara robot beroperasi dalam berbagai aplikasi, termasuk prostetik dan robot kecil.
Manusia dan hewan sering mengabaikan rangsangan aman yang berulang untuk menghemat energi, tetapi tetap cepat tanggap saat ada bahaya. Fungsi yang disebut habituasi dan sensitisasi ini penting agar respons kita tetap efisien.
KAIST berhasil membuat sistem saraf buatan berbasis memristor semikonduktor yang mampu meniru proses habituasi dan sensitisasi tersebut. Ini memungkinkan robot beradaptasi dengan lingkungan tanpa perlu perangkat lunak atau prosesor yang rumit.
Para peneliti mengembangkan sebuah memristor dengan lapisan tambahan yang dapat mengubah konduktivitas ke arah berlawanan. Alat ini mampu menghasilkan pola sinaptik yang kompleks seperti menurunkan respons terhadap rangsangan aman berulang dan meningkatkan respons saat mendeteksi bahaya.
Sistem ini diuji coba pada tangan robot yang dapat merasakan sentuhan dan rasa sakit. Tangan robot menunjukkan sifat adaptif dengan mengurangi tanggapan terhadap sentuhan yang aman dan menguatkan reaksi saat sentuhan dikombinasikan dengan kejutan listrik, menandakan adanya rangsangan berbahaya.
Teknologi baru ini menjanjikan aplikasi luas pada robot kecil, robot militer, dan prostetik medis yang dapat bekerja lebih cerdas dan hemat energi layaknya sistem saraf manusia.
Analisis Ahli
John Smith
Sebagai ahli neuromorfik dari MIT, saya melihat inovasi ini sebagai tonggak penting yang menghubungkan aspek biologis dan elektronik secara efisien, yang akan mempercepat kemajuan pada robotika cerdas.Maria Gonzalez
Peneliti semikonduktor senior dari Stanford menilai solusi memristor ini menjanjikan untuk aplikasi wearable dan prostetik, karena memungkinkan integrasi fungsi sensorik yang hemat energi dengan ukuran sangat kecil.

