Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

BMKG: Waspada Hujan Lebat dan Angin Kencang di Indonesia Minggu Depan

Sains
Iklim dan Lingkungan
CNBCIndonesia CNBCIndonesia
12 Jul 2025
149 dibaca
2 menit
BMKG: Waspada Hujan Lebat dan Angin Kencang di Indonesia Minggu Depan

Rangkuman 15 Detik

Hujan lebat dan angin kencang masih akan terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia.
BMKG memberikan peringatan dini untuk masyarakat agar waspada terhadap cuaca ekstrem.
Perubahan cuaca harus diperhatikan agar dapat menghindari bahaya seperti banjir dan tanah longsor.
Indonesia masih menghadapi cuaca ekstrem berupa hujan lebat dan angin kencang selama periode 11-17 Juli 2025. Hal ini terjadi karena sebagian besar zona musim di Indonesia belum memasuki musim kemarau penuh, sehingga curah hujan masih tinggi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memantau bahwa hanya sekitar 30% zona musim di Indonesia yang sudah dalam musim kemarau hingga akhir Juni 2025. Kebanyakan wilayah seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua masih memiliki potensi hujan lebat. Fenomena atmosfer yang memengaruhi cuaca ini antara lain gelombang Equatorial Rossby di beberapa pulau besar, gelombang Kelvin di wilayah lainnya, serta pembentukan sirkulasi siklonik di Samudra Pasifik dan Samudra Hindia yang semakin memperkuat potensi konvergensi angin dan pembentukan awan hujan. BMKG mengeluarkan peringatan waspada dan siaga khususnya untuk berbagai provinsi yang rawan hujan deras dan angin kencang. Masyarakat diimbau untuk menghindari aktivitas luar ruangan saat cuaca buruk, menjauh dari pohon besar dan bangunan rapuh, serta selalu memantau informasi cuaca terbaru. Selain itu, warga diminta waspada terhadap kemungkinan banjir, banjir bandang, dan tanah longsor terutama di daerah rawan. Pada saat cuaca cerah, penting untuk melindungi diri dari panas dan kekeringan dengan tabir surya dan asupan cairan yang cukup.

Analisis Ahli

Dr. Agus Santoso (Meteorolog dan Klimatolog)
Fenomena gelombang atmosfer seperti Equatorial Rossby dan Kelvin yang aktif memang sering kali memperpanjang musim hujan dan meningkatkan risiko cuaca ekstrem di wilayah tropis Indonesia. Masyarakat dan pemerintah daerah harus siap dengan mitigasi risiko bencana sepanjang periode ini.