Uber Kembali Hadirkan Layanan Shuttle Mirip Bus, Apakah Ini Solusi atau Masalah Baru?
Sains
Iklim dan Lingkungan
07 Jun 2025
2 dibaca
2 menit

Rangkuman 15 Detik
Uber meluncurkan program Route Share yang mirip dengan layanan bus, tetapi dengan kekhawatiran tentang dampak lingkungan.
Banyak perjalanan ride-hailing tidak menggantikan mobil pribadi, tetapi menggantikan transportasi yang lebih berkelanjutan seperti bus dan sepeda.
Sistem transit publik berisiko terdampak negatif oleh model bisnis Uber, terutama di kota-kota dengan sistem transit yang sudah lemah.
Beberapa perusahaan seperti Uber dan Lyft mencoba meluncurkan layanan shuttle dengan rute dan waktu tetap yang mirip bus, dengan tujuan mengurangi biaya transportasi dan kemacetan di kota-kota besar seperti New York dan San Francisco. Uber menyebut layanan barunya Route Share, yang awalnya dipromosikan sebagai transportasi yang lebih terjangkau dan dapat diprediksi khususnya di jam sibuk.
Namun banyak pihak skeptis tentang manfaat sebenarnya. Studi dari Union of Concerned Scientists menunjukkan bahwa layanan rideshare seperti Uber dan Lyft malah menghasilkan emisi karbon yang lebih tinggi dibanding menggunakan mobil pribadi biasa, terutama karena banyaknya perjalanan tanpa penumpang atau deadheading. Bahkan layanan yang berbagi tumpangan sekalipun belum banyak lebih ramah lingkungan kecuali menggunakan mobil listrik.
Muncul juga kekhawatiran serius tentang dampak layanan ubah bus ini kepada sistem transportasi umum yang berfungsi sebagai layanan publik. Banyak sistem transit di kota-kota besar Amerika mengalami krisis keuangan sehingga terancam pemangkasan layanan. Uber justru bisa mengambil keuntungan dari situasi ini dengan menawarkan alternatif yang sebenarnya tidak memiliki tanggung jawab atau akuntabilitas publik.
Analisa juga menunjukkan bahwa di beberapa rute, transportasi umum yang ada jauh lebih murah dan cepat dibanding layanan Uber Route Share yang baru. Misalnya perjalanan Midtown ke Lower Manhattan di New York dengan subway hanya Rp 4.84 juta ($2,90) dan lebih cepat dibandingkan Rp 217.10 ribu ($13) naik Route Share yang menempuh perjalanan 3 mil. Ini menunjukkan bahwa layanan Shuttle Uber ini bukan opsi paling efisien atau hemat bagi pengguna di pusat kota.
Kesimpulannya, sementara Uber mengklaim Route Share sebagai solusi inovatif yang terinspirasi dari bus dan bertujuan mengurangi kemacetan serta emisi, banyak ahli dan laporan menilai layanan ini justru bisa memperburuk kemacetan, merusak sistem transportasi publik, dan memberikan lebih sedikit manfaat lingkungan dibanding solusi transportasi umum yang ada.
Analisis Ahli
Kevin Shen
Uber hanya mencoba 'menemukan kembali bus yang lebih buruk' karena layanan mereka bisa meningkatkan jumlah kendaraan di jalan dan tidak cukup mengurangi polusi atau kemacetan.