Qantas Alami Kebocoran Data Penumpang, Maskapai Harus Waspada Ancaman Siber
Teknologi
Keamanan Siber
02 Jul 2025
85 dibaca
2 menit

Rangkuman 15 Detik
Qantas mengalami pelanggaran data besar yang memengaruhi enam juta penumpang.
Scattered Spider adalah kelompok peretas yang terlibat dalam beberapa pelanggaran data di industri penerbangan.
Mandiant memperingatkan maskapai penerbangan untuk memperkuat keamanan mereka terhadap serangan siber.
Qantas, maskapai penerbangan terbesar di Australia, mengumumkan bahwa mereka mengalami pelanggaran data besar yang mencuri informasi pribadi lebih dari enam juta penumpang. Data yang dicuri meliputi nama, email, nomor telepon, tanggal lahir, dan nomor frequent flyer, yang semuanya sangat sensitif dan dapat disalahgunakan.
Insiden ini terjadi setelah kelompok peretas yang dikenal dengan nama Scattered Spider sering menargetkan maskapai besar dalam beberapa pekan terakhir. Serangan terhadap Qantas diduga terjadi melalui salah satu call center mereka pada tanggal 30 Juni, yang kemudian berhasil mengakses data pelanggan.
Selain Qantas, maskapai lain seperti WestJet dari Kanada dan Hawaiian Airlines juga mengalami pelanggaran data serupa dalam waktu dekat. Ini menunjukkan bahwa para peretas semakin mengincar industri penerbangan yang memiliki akses ke data pribadi dalam jumlah besar.
Mandiant, unit keamanan dari Google, menilai bahwa masih terlalu dini untuk memastikan apakah Scattered Spider benar-benar bertanggung jawab atas serangan di Qantas. Namun, mereka menekankan bahwa maskapai penerbangan harus meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap serangan yang menggunakan metode rekayasa sosial yang menipu karyawan untuk memberikan akses ke sistem.
Berbagai perusahaan di industri penerbangan disarankan untuk memperkuat protokol keamanan mereka guna melindungi data pelanggan. Kejadian ini menjadi peringatan penting bagi semua maskapai agar menjaga informasi pribadi penumpang dari potensi ancaman siber yang semakin canggih.
Analisis Ahli
Kevin Mandia (CEO Mandiant)
Meskipun saat ini belum dapat dipastikan, serangan ini menunjukkan kompleksitas dan kemampuan tinggi dari kelompok hacker yang sering menargetkan perusahaan besar, sehingga industri harus memperkuat pertahanan dan kewaspadaan terhadap metode rekayasa sosial.


