AI summary
Keragaman warna kulit sudah ada di Eropa sejak zaman prasejarah. Penelitian DNA memberikan wawasan baru tentang penampilan manusia prasejarah. Kolaborasi antara seni dan sains dapat menghasilkan rekonstruksi yang mendalam tentang sejarah manusia. Para peneliti dari Ghent University bekerja sama dengan seniman dalam proyek ROAM berhasil merekonstruksi wajah seorang wanita yang hidup sekitar 10.500 tahun lalu di Belgia. Rekonstruksi ini menggunakan pemindaian 3D dari tengkorak wanita tersebut dan model patung yang dibuat berdasarkan data genetik dan anatomi.Dari analisis DNA, ditemukan bahwa wanita ini memiliki mata biru dan warna kulit sedang, berbeda dengan Cheddar Man di Inggris yang bermata biru tetapi berkulit gelap. Ini menunjukkan bahwa keragaman warna kulit sudah ada di populasi pemburu-pengumpul Eropa sejak zaman Mesolitikum.Penelitian ini menantang pandangan lama yang menganggap populasi manusia Eropa awal bersifat homogen dalam hal warna kulit. Wanita Margaux ini hidup di lingkungan yang menggambarkan gaya hidup pemburu-pengumpul yang aktif dan berpindah-pindah, menggunakan kano untuk mobilitasnya.Semua manusia berasal dari Afrika dan keragaman warna kulit muncul akibat adaptasi terhadap lingkungan baru selama migrasi. Penemuan ini memperlihatkan bahwa variasi tersebut sudah ada ribuan tahun yang lalu di Eropa, bukan sesuatu yang muncul kemudian.Meski begitu, para peneliti juga menyatakan bahwa tidak ada kepastian mutlak mengenai warna kulit dan mata karena keterbatasan data DNA kuno. Namun, melalui kombinasi genetika, anatomi, dan seni, kita bisa mendapat gambaran lebih hidup tentang manusia purba tersebut.