Ancaman Penutupan Pabrik Lotus di Inggris Karena Tarif Mobil AS
Teknologi
Kendaraan Listrik dan Baterai
28 Jun 2025
151 dibaca
2 menit
Rangkuman 15 Detik
Geely mempertimbangkan penutupan pabrik Lotus di Hethel, yang dapat mengakibatkan hilangnya 1.300 pekerjaan.
Produksi di pabrik sudah terhenti sejak Mei karena tarif yang dikenakan pada mobil Inggris.
Lotus beralih ke produksi mobil listrik dan mewah sambil menghadapi tantangan dalam industri otomotif di Britania Raya.
Lotus, pembuat mobil sport asal Inggris yang telah beroperasi selama hampir 60 tahun, menghadapi risiko penutupan pabriknya di Hethel, Norfolk. Pemiliknya, perusahaan Cina Geely, sedang mempertimbangkan memindahkan produksi ke Amerika Serikat. Langkah ini dilakukan untuk menghindari tarif impor yang tinggi dari AS mencapai 27,5%.
Penutupan pabrik ini berpotensi menghilangkan sekitar 1.300 pekerjaan di Inggris, memperburuk situasi industri otomotif Inggris yang sudah terpukul oleh penutupan pabrik produsen lain seperti Vauxhall, Ford, dan Honda. Penutupan serupa juga sebelumnya terjadi di industri baja di Inggris pada tahun ini.
Meskipun Geely telah menginvestasikan ratusan juta pound untuk memperbarui pabrik Hethel dan meningkatkan kapasitas produksinya, produksi di sana sudah berhenti sementara sejak Mei 2024 karena masalah inventaris dan rantai pasokan akibat tarif tinggi dari AS. Lotus berencana memulai lagi produksi dalam beberapa minggu ke depan, namun masa depan jangka panjang tetap tidak pasti.
Lotus telah bertransformasi dengan fokus pada mobil listrik dan mobil mewah yang sebagian besar diproduksi di China. Sementara itu, mobil terakhir berbahan bakar bensin diproduksi di pabrik Hethel. Geely juga sedang mengembangkan rencana untuk membuka pabrik baru di AS demi menyesuaikan dengan pasar dan menghindari tarif impor yang merugikan.
Dalam konteks yang lebih luas, produksi mobil di Inggris mengalami penurunan tajam yang mencapai level terendah dalam 76 tahun akibat dampak tarif impor dan ketidakpastian pasar. Meski tarif impor akan berkurang berkat perjanjian dagang baru, masa depan industri otomotif Inggris, khususnya bagi perusahaan bersejarah seperti Lotus, masih dipenuhi ketidakpastian.


