TLDR
Perubahan kepemimpinan di Intel menunjukkan upaya untuk merestrukturisasi perusahaan. Investasi dan strategi baru diharapkan dapat mengatasi tantangan yang dihadapi Intel. Kerugian besar yang dialami Intel mencerminkan masalah yang lebih dalam dalam manajemen dan produksi. Intel, salah satu perusahaan chip terbesar di dunia, mengalami perubahan penting dalam manajemen strateginya. Safroadu Yeboah-Amankwah, yang selama ini menjabat sebagai Chief Strategy Officer, akan meninggalkan perusahaan pada akhir Juni. Perubahan ini merupakan bagian dari upaya restrukturisasi yang dilakukan setelah CEO baru, Lip-Bu Tan, mengambil alih kepemimpinan Intel pada bulan Maret.Yeboah-Amankwah selama ini bertanggung jawab atas berbagai inisiatif pertumbuhan dan kemitraan strategis di Intel. Beberapa tanggung jawab strategisnya kini akan diberikan kepada Sachin Katti, yang baru saja dijadikan Chief Technology and AI Officer. Ini menunjukkan arah baru Intel dalam fokus teknologi dan kecerdasan buatan di bawah kepemimpinan Tan.Selain perubahan posisi pimpinan, Tan juga mengambil alih langsung pengawasan beberapa divisi penting seperti data center dan grup chip AI serta komputer pribadi. Ia melakukan pemangkasan di lapisan manajemen tengah yang dianggap terlalu berbelit dan lambat agar Intel lebih gesit dalam bergerak dan berinovasi.Langkah ini diambil menyusul periode sulit bagi Intel, termasuk tantangan manufaktur yang dialami perusahaan dan kehilangan pangsa pasar dalam chip untuk ponsel dan AI. CEO sebelumnya, Pat Gelsinger, mencoba melakukan perbaikan besar-besaran, tetapi hasilnya tidak cukup baik, bahkan memperburuk sebagian masalah.Intel pun melaporkan kerugian besar sekitar 18,8 miliar dolar AS pada tahun 2024, yang merupakan kerugian tahunan pertama sejak 1986. Kondisi ini menjadi latar belakang penting bagi perubahan strategi dan pemimpin baru di perusahaan.