Huawei Tembus Pembatasan AS dengan Performa CloudMatrix 384 di AI
Teknologi
Kecerdasan Buatan
19 Jun 2025
192 dibaca
1 menit

Rangkuman 15 Detik
Huawei berupaya mengatasi sanksi teknologi AS dengan mengembangkan infrastruktur AI yang canggih.
CloudMatrix 384 menunjukkan kemampuan Huawei dalam menciptakan solusi AI yang kompetitif di pasar global.
Kerjasama antara Huawei dan SiliconFlow menyoroti pentingnya kolaborasi dalam penelitian dan pengembangan teknologi.
Huawei berhasil mengembangkan arsitektur pusat data terbaru bernama CloudMatrix 384 yang menggunakan chip Ascend mereka sendiri. Ini adalah langkah penting karena perusahaan menghadapi pembatasan teknologi dari pemerintah AS yang membatasi penggunaan teknologi asing, seperti chip Nvidia.
CloudMatrix 384 terdiri dari ratusan chip AI dan CPU yang terhubung dengan sangat cepat untuk memproses beban kerja besar. Dengan desain ini, Huawei menciptakan apa yang disebut sebagai 'AI supernode' yang khusus menangani aplikasi dan model AI kompleks.
Dalam uji coba, CloudMatrix 384 dan solusi CloudMatrix-Infer berhasil mengungguli performa sistem yang menggunakan GPU Nvidia H800 ketika menjalankan model AI besar DeepSeek R1 yang memiliki 671 miliar parameter. Ini menunjukkan kemampuan Huawei bersaing di teknologi AI tingkat tinggi.
Makalah teknis yang dirilis bersama dengan SiliconFlow memperlihatkan bahwa Huawei tidak hanya berinovasi untuk menghindari sanksi, tetapi juga berusaha membangun fondasi baru bagi infrastruktur AI generasi mendatang di China.
Secara umum, pengembangan ini menegaskan bahwa meskipun ada pembatasan dari AS, Huawei tetap menemukan cara untuk maju dan memperkuat posisinya di dunia teknologi kecerdasan buatan dan pusat data berkapasitas tinggi.


