Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Trump Launch Smartphone 'Made in America' Tapi Pakar Ragukan Klaimnya

Teknologi
Gadgets dan Wearable
gadgets-and-wearable (9mo ago) gadgets-and-wearable (9mo ago)
18 Jun 2025
18 dibaca
2 menit
Trump Launch Smartphone 'Made in America' Tapi Pakar Ragukan Klaimnya

Rangkuman 15 Detik

Trump Organization meluncurkan T1 Phone yang diklaim buatan Amerika.
Apple menghadapi tekanan untuk memindahkan manufaktur ke AS sebagai respons terhadap kebijakan Trump.
T1 Phone kemungkinan besar akan diproduksi di China meskipun dipromosikan sebagai produk lokal.
Trump Organization mengumumkan smartphone baru bernama T1 Phone yang diklaim diproduksi di Amerika Serikat. Langkah ini menjadi sorotan karena upaya Presiden Donald Trump memaksa pabrikan smartphone memindahkan produksi ke AS, menargetkan Apple yang selama ini bergantung pada manufaktur di China dan India. T1 Phone disebut-sebut memiliki desain mirip iPhone dengan kamera berbentuk "boba" dan harga yang lebih terjangkau, yakni Rp 8.33 juta (US$499) . Smartphone ini akan menggunakan sistem operasi Android dan juga menawarkan layanan bundel bernama Trump Mobile dengan paket bulanan yang mencakup telepon tanpa batas dan manfaat kesehatan. Namun, para ahli industri memberikan pandangan kritis terhadap klaim ini. Mereka menyatakan bahwa kendati T1 Phone mungkin melakukan beberapa proses di AS, sebagian besar produksi dan perancangan tetap akan melibatkan perusahaan manufaktur di China, mengingat kompleksitas rantai pasokan dan teknologi yang diperlukan. Fakta menunjukkan berbagai komponen utama seperti layar AMOLED, prosesor, sensor kamera, dan memori diimpor dari berbagai negara seperti Korea Selatan, Taiwan, Jepang, dan AS. Membuat smartphone penuh di AS saat ini dinilai tidak realistis dan akan sangat mahal jika dipaksakan. Pakar industri menyimpulkan bahwa walaupun T1 Phone dipasarkan sebagai produk AS, kenyataannya produksi ponsel ini kemungkinan besar akan tetap bergantung pada manufaktur dan suku cadang dari luar negeri, terutama China. Trump Organization belum memberikan tanggapan resmi mengenai hal ini.