Tekanan Berat Penambang Bitcoin di Tengah Kenaikan Hashrate dan Biaya Energi
Finansial
Mata Uang Kripto
17 Jun 2025
231 dibaca
2 menit
Rangkuman 15 Detik
Kesulitan dan hashrate Bitcoin yang tinggi meningkatkan biaya produksi penambangan.
Perusahaan penambangan harus beradaptasi dengan biaya energi yang meningkat untuk tetap kompetitif.
Investor mulai fokus pada model bisnis perusahaan penambangan, bukan hanya pada harga Bitcoin.
Para penambang Bitcoin sedang menghadapi tekanan besar karena hashrate dan kesulitan jaringan Bitcoin terus meningkat ke rekor tertinggi. Hal ini mempersempit margin keuntungan mereka walaupun harga Bitcoin tetap stabil. Biaya produksi Bitcoin kini diperkirakan akan naik di atas Rp 1.17 juta ($70.000) per BTC, naik drastis dibandingkan kuartal pertama tahun ini.
Persaingan antar penambang semakin sengit. Perusahaan besar seperti MARA Holdings, CleanSpark, Riot Platforms, dan IREN sedang mempercepat ekspansi fasilitas mereka agar tetap kompetitif. MARA bahkan berhasil menambah hashrate hingga 30% pada bulan Mei, sementara HIVE menambah 32% dengan membuka fasilitas baru di Paraguay.
Perangkat penambangan terbaru, seperti ASIC kelas atas, kini memiliki biaya produksi antara Rp 167.00 ribu ($10) sampai Rp 501.00 ribu ($30) per terahash. Selain itu, masa pengembalian investasi bisa mencapai dua tahun, apalagi jika harga listrik yang digunakan lebih tinggi dari rata-rata. Contohnya perusahaan Terawulf yang harus membayar listrik Rp 1.35 juta ($0,081) per kWh, yang mendorong biaya operasional lebih dari 25%.
Transaksi di jaringan Bitcoin pada bulan Juni menunjukkan biaya transaksi semakin turun, di bawah 1% dari total hadiah blok. Harga hashprice juga sempat turun drastis sebelum sedikit rebound. Sementara itu, pasar saham perusahaan penambangan menunjukkan kinerja yang tidak selalu sejalan dengan harga Bitcoin, yang menunjukkan perhatian investor mulai bergeser ke model bisnis perusahaannya.
Situasi ini mengindikasikan bahwa industri penambangan Bitcoin masih menghadapi tantangan ekonomi dan teknologi yang besar, namun para pemain utama terus berupaya beradaptasi dan memperluas kapasitas produksi mereka. Ke depannya, pengelolaan biaya energi dan efisiensi teknologi menjadi kunci utama agar tetap bertahan dan berkembang di pasar yang semakin kompetitif.