BMKG Imbau Waspada Cuaca Ekstrem Meski Musim Kemarau Mulai Meluas
Sains
Iklim dan Lingkungan
16 Jun 2025
217 dibaca
2 menit

Rangkuman 15 Detik
Hanya 15% wilayah di Indonesia yang telah memasuki musim kemarau.
Siklon Tropis Wutip berdampak pada pengurangan potensi hujan di beberapa daerah.
BMKG mengingatkan pentingnya waspada terhadap potensi cuaca ekstrem meskipun musim kemarau telah dimulai.
Saat ini hanya sekitar 15% wilayah Indonesia yang benar-benar memasuki musim kemarau, sehingga banyak daerah, termasuk Jabodetabek, masih mengalami hujan. Keberadaan Siklon Tropis Wutip di sekitar Laut China Selatan turut memengaruhi kondisi ini dengan mengurangi potensi hujan di beberapa daerah bagian barat.
BMKG menjelaskan bahwa walaupun potensi hujan secara umum berkurang, pengaruh dinamika atmosfer seperti gelombang Kelvin, Rossby Ekuator, dan gelombang frekuensi rendah masih membuat beberapa daerah berpotensi hujan intensitas sedang hingga lebat, terutama di siang dan sore hari.
Selain itu, indeks Monsun Australia yang menguat menyebabkan aliran udara kering dari Australia ke wilayah Indonesia bagian selatan meningkat. Hal ini berpeluang memperluas wilayah yang memasuki musim kemarau khususnya di Jawa bagian selatan, Bali, Nusa Tenggara, dan sebagian Kalimantan bagian selatan.
BMKG mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem yang dapat muncul, seperti hujan deras disertai petir, angin kencang, hingga gelombang tinggi hingga 4 meter di beberapa wilayah perairan seperti Laut Jawa dan Laut Arafuru.
Informasi cuaca resmi harus selalu dipantau agar masyarakat bisa mengambil langkah mitigasi yang tepat guna mengurangi risiko bencana hidrometeorologi. Potensi hujan lebat tetap ada di banyak wilayah Indonesia, sehingga kesiapsiagaan sangat penting terutama di daerah rawan.



