Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Nvidia Hadapi Larangan Ekspor Chip China, Tapi Permintaan AI Tetap Melonjak

Teknologi
Kecerdasan Buatan
YahooFinance YahooFinance
29 Mei 2025
210 dibaca
2 menit
Nvidia Hadapi Larangan Ekspor Chip China, Tapi Permintaan AI Tetap Melonjak

Rangkuman 15 Detik

Nvidia menghadapi tantangan besar akibat larangan ekspor chip H20 ke China.
Permintaan untuk infrastruktur AI diperkirakan akan terus meningkat di seluruh dunia.
Kebijakan pemerintah AS dapat mempengaruhi strategi bisnis dan pendapatan perusahaan teknologi seperti Nvidia.
Nvidia melaporkan hasil keuangan kuartal pertama yang menunjukkan pendapatan lebih tinggi dari perkiraan, namun laba per saham yang disesuaikan lebih rendah karena dampak larangan ekspor chip H20 ke China oleh pemerintahan Trump. Larangan ini menyebabkan Nvidia kehilangan pendapatan sekitar Rp 133.60 triliun ($8 miliar) pada kuartal kedua. Segmen pusat data Nvidia, yang merupakan bisnis terbesar perusahaan, mencatat pendapatan yang tumbuh signifikan dibanding tahun lalu. Namun pendapatan ini sedikit di bawah ekspektasi analis, walaupun permintaan global terhadap produk AI Nvidia sangat kuat terutama dari perusahaan besar seperti Amazon, Google, dan Microsoft. Nvidia mengembangkan versi chip H20 yang dimodifikasi agar memenuhi persyaratan pemerintah AS. CEO Jensen Huang mengkritik kebijakan AS yang dinilainya tidak berhasil dan justru menguntungkan pembuat chip AI China. Perusahaan juga mendapat sedikit kelonggaran dari aturan ekspor yang awalnya lebih ketat. Selain menghadapi hambatan di China, Nvidia terus memperluas jangkauannya dengan kemitraan strategis di Timur Tengah. Perusahaan berencana menyediakan ratusan ribu GPU untuk startup AI Saudi Humain, serta ikut dalam proyek besar di Uni Emirat Arab dengan sistem Blackwell mereka. Meskipun ada masalah terkait larangan ekspor dan kontrol perdagangan, Nvidia tetap menjadi pemain utama dalam transformasi AI global dengan permintaan yang terus meningkat. Investor dan analis melihat peluang bisnis yang kuat, terutama dengan masuknya pelanggan kaya di wilayah Timur Tengah.