Kebocoran Data Besar di LexisNexis: Risiko dan Dampak Data Pribadi Bocor
Teknologi
Keamanan Siber
28 Mei 2025
258 dibaca
1 menit

Rangkuman 15 Detik
Pelanggaran data di LexisNexis menunjukkan kerentanan dalam keamanan data perusahaan.
Industri broker data terus beroperasi meskipun ada tantangan terhadap privasi konsumen.
Tindakan pemerintah terkait regulasi privasi dapat mempengaruhi cara data pribadi dikelola dan dijual.
LexisNexis Risk Solutions mengalami kebocoran data besar yang berdampak pada lebih dari 364.000 orang. Kebocoran ini terungkap setelah peretas berhasil mengakses akun GitHub perusahaan, platform yang digunakan untuk pengembangan perangkat lunak mereka.
Data yang dicuri sangat sensitif dan mencakup nama lengkap, tanggal lahir, nomor telepon, alamat, nomor Jaminan Sosial, dan nomor SIM. Informasi ini dapat digunakan oleh peretas untuk berbagai kejahatan termasuk pencurian identitas.
Perusahaan menerima laporan tentang pencurian data dari pihak ketiga pada 1 April 2025, namun mereka belum mengonfirmasi apakah ada permintaan tebusan. Hal ini menimbulkan kekhawatiran tentang keamanan data yang dikelola oleh perusahaan data besar seperti LexisNexis.
LexisNexis adalah salah satu pemain utama data broker yang mengumpulkan dan menjual data pribadi konsumen untuk berbagai keperluan, termasuk mendeteksi penipuan dan memberikan penilaian risiko kepada perusahaan-perusahaan. Praktik ini sering kali mendapatkan kritik karena kurangnya izin eksplisit dari konsumen.
Meskipun pemerintah Biden sempat mengusulkan aturan untuk membatasi praktik data broker demi melindungi privasi warga, aturan tersebut dibatalkan oleh pemerintahan Trump, tetap membiarkan celah besar bagi perusahaan untuk terus mengumpulkan dan menggunakan data pribadi tanpa regulasi ketat.



