AI summary
Renault Group menggunakan ACDC di Shanghai untuk meningkatkan pengembangan kendaraan listrik. Perusahaan berupaya untuk mempercepat siklus pengembangan mobil listrik dengan menerapkan wawasan dari pasar Tiongkok. Model baru yang lebih terjangkau diharapkan dapat bersaing dengan merek Cina di pasar Eropa. Renault Group kini menggunakan pusat pengembangan mereka di Shanghai untuk menciptakan mobil listrik yang bukan hanya untuk pasar Eropa, tapi juga pasar global. Ini adalah langkah strategis untuk menekan biaya produksi dan mempercepat waktu peluncuran produk baru.Pusat pengembangan Advanced China Development Centre yang baru dibuka tahun lalu di Shanghai memiliki sekitar 200 karyawan yang fokus pada kendaraan listrik untuk pasar Eropa. Mereka berperan penting dalam mempercepat proses riset dan pembuatan model baru.Contohnya, Renault berhasil mengembangkan versi lebih terjangkau dari mobil listrik Twingo dalam waktu 21 bulan, jauh lebih cepat dari siklus pengembangan sebelumnya yang biasanya memakan waktu 3 sampai 4 tahun.Selain itu, pusat ini juga memungkinkan pengembangan model EV untuk merek murah Dacia dalam waktu yang sangat singkat, yaitu hanya 16 bulan, yang merupakan waktu pengembangan tercepat dalam sejarah Renault Group.Renault berharap produk-produk EV dengan harga terjangkau ini dapat bersaing melawan mobil listrik merk Cina seperti BYD Seagull dan Nio Firefly di pasar Eropa, terutama dengan meningkatnya persaingan dari merek kendaraan listrik asal Cina.
Langkah Renault menggunakan pusat teknologi di China adalah strategi yang sangat cerdas untuk memangkas biaya dan mempercepat waktu pemasaran, yang kini jadi tuntutan penting di era kompetisi EV global. Kombinasi kecepatan pengembangan dan fokus pada pasar global dapat membuat Renault kembali menjadi pemain kuat meski menghadapi tekanan keras dari merek China.