Google Veo 3: AI Video Pertama dengan Suara Otomatis untuk Kreativitas Lebih Hidup
Teknologi
Kecerdasan Buatan
21 Mei 2025
221 dibaca
2 menit

Rangkuman 15 Detik
Veo 3 dapat menghasilkan video dengan audio yang sesuai, menandai era baru dalam generasi video.
DeepMind menggunakan teknologi watermarking untuk mengatasi kekhawatiran tentang deepfake.
Industri animasi mungkin mengalami gangguan besar akibat adopsi teknologi AI di masa depan.
Google memperkenalkan Veo 3, model AI terbaru yang dapat membuat video lengkap dengan suara, termasuk efek suara, suara latar, dan dialog yang sinkron. Model ini diumumkan dalam konferensi Google I/O 2025 dan disampaikan sebagai pembeda utama di pasar video generator AI yang semakin ramai.
Veo 3 adalah peningkatan dari Veo 2, mampu menghasilkan footage video yang lebih berkualitas dan memberikan pengguna kemampuan mengontrol video dengan input berupa teks dan gambar. Pengguna paket AI Ultra Google sudah dapat mengakses fitur ini melalui aplikasi Gemini.
Salah satu keunggulan besar Veo 3 adalah kemampuannya memahami piksel mentah dalam video dan secara otomatis mensinkronkan audio yang dihasilkan dengan konten visual. Ini merupakan langkah maju dibandingkan teknologi AI yang hanya fokus pada pembuatan video tanpa suara atau sinkronisasi suara minimal.
Google menggunakan teknologi watermarking bernama SynthID untuk menandai video yang dihasilkan agar mengurangi risiko pemanfaatan untuk deepfake. Namun, ada kekhawatiran dari kalangan pekerja kreatif, seperti animator dan kartunis, terkait potensi gangguan lapangan kerja akibat perkembangan AI ini.
Selain Veo 3, Google juga memperbarui Veo 2 dengan fitur untuk kontrol adegan yang lebih baik, penambahan dan penghapusan objek di video, serta kemampuan mengubah orientasi video. Fitur ini akan hadir juga di platform API Google Vertex AI dalam waktu dekat.
Analisis Ahli
Demis Hassabis
Kemampuan menciptakan audio dan video sekaligus adalah lompatan besar yang akan membuka peluang baru dalam kreativitas digital.Animation Guild
AI video generator berpotensi menggantikan banyak pekerjaan di industri animasi dan film, sehingga perlunya regulasi dan adaptasi tenaga kerja.


