Pomodo
HomeTeknologiBisnisSainsFinansial

Penghapusan Abstrak DEI Di LPI Akibat Perintah Trump Mengancam Ilmu Antariksa

Sains
Astronomi dan Penjelajahan Luar Angkasa
News Publisher
09 Mei 2025
1187 dibaca
2 menit
Penghapusan Abstrak DEI Di LPI Akibat Perintah Trump Mengancam Ilmu Antariksa

TLDR

Penghapusan abstrak yang berkaitan dengan DEI dianggap sebagai bentuk sensor ilmiah.
Reaksi dari ilmuwan menunjukkan kekhawatiran tentang etika dan integritas dalam penelitian.
Upaya penyelamatan materi yang dihapus menunjukkan pentingnya kolaborasi dan komunitas ilmiah.
Beberapa minggu terakhir, ratusan abstrak pertemuan ilmiah bertema keberagaman, kesetaraan, dan inklusi (DEI) dihapus dari situs web Lunar and Planetary Institute (LPI) tanpa persetujuan penulisnya. Penghapusan ini dilakukan setelah perintah eksekutif Presiden Donald Trump yang melarang pendanaan pemerintah untuk program DEI. Para ilmuwan sangat kecewa dan marah karena tindakan ini dianggap sebagai bentuk sensor terhadap ilmu pengetahuan.LPI adalah institusi yang dibiayai NASA tetapi dikelola secara independen oleh Universities Space Research Association (USRA). Mereka percaya bahwa mereka harus mematuhi perintah eksekutif tersebut, meskipun banyak pihak merasa mereka salah menafsirkan aturan itu karena materi yang dihapus adalah karya independen yang sudah dipublikasikan. NASA sendiri tidak terlibat langsung dalam penghapusan tersebut.Abstrak yang dihapus tidak hanya membahas topik DEI secara umum tetapi juga menyertakan penelitian penting tentang cara membangun tim ilmuwan yang efektif dan kesehatan mental di komunitas ilmiah. Penghapusan materi ini dianggap sebagai penghilangan sejarah dan budaya yang telah lama dibangun dalam komunitas penelitian planet.Para ilmuwan terkemuka seperti Ingrid Daubar dan Mark Sykes menyebut penghapusan tersebut sebagai tindakan yang tidak etis dan sebagai bentuk sensor sejarah yang dapat merugikan perkembangan ilmu planet. Beberapa peneliti juga telah menginisiasi upaya penyelamatan data agar materi yang dihapus dapat diakses kembali melalui situs web pihak ketiga.Kasus ini mencerminkan ketegangan antara kebijakan politik dengan kebebasan akademik dan pentingnya keberagaman dalam ilmu pengetahuan. Para ilmuwan berharap keputusan seperti ini tidak terus berlanjut agar komunitas riset dapat bekerja dalam lingkungan yang inklusif dan terbuka.
Baca Berita Lebih Cepat,Lebih Cerdas
Rangkuman berita terkini yang dipersonalisasi untukmu — tanpa perlu baca panjang lebar.